Iklan

BENTENGI ULAMA !

Posted by Gerakan Rakyat on Rabu, 21 Februari 2018




GERAKAN RAKYAT - Serangkaian teror pada Ulama saat ini semakin menggila. Sejumlah Ulama telah teraniaya, bahkan dibunuh dengan biadab di kediamannya.
.
Ada ekstremis yang terindera, dari lingkaran kecil kartel bisnis sejoli pemangku kekuasaan. Aroma ‘state terorism’ begitu menyengat menyeruak, mengiringi kaum komunis yang gegap gempita berakrobat mengusung proposal ‘menangkan Pancasila’.
.
Kaum komunis saat ini sedang fokus giat menguatkan konsolidasi organik aksi massa historisnya, seraya mereduksi fakta coup d'etat 1965.
.
Baik komunis maupun ekstremis itu perlu disikapi melalui kanalisasi pergerakan yang lebih apik dan spesifik. Tidak parsial atau hanya sebagai letupan ghirah semasa.
.
Teror terhadap Ulama, Santri dan civitas akademika Pondok Pesantren, merupakan psy-war dari praktik para ekstremis yang dimaksud. Hal ini menjadi aksis bagi kepentingan memastikan dominasi kekuasaan.
.
Apakah kaum komunis terlibat? Tentu. Tetapi tidak dengan infrastruktur organiknya secara langsung. Teramat beresiko bagi kaum komunis vis a vis Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) yang belum pupus ingatannya pada penghianatan kaum komunis di 1960-an
.
Faktual, kiwari, kaum komunis lebih memilih mencangkokkan diri ke batang tubuh partai-partai berbasis romansa, seperti yang dipertunjukan oleh penulis buku: aku bangga jadi anak PKI, Ribka Tjiptaning.
.
Sebaran kader kaum komunis yang lain juga masif menginfiltrasi partai-partai oportunis, dan menjadi think-thang di sentra oligarki, selain mengorganisir sumber daya eksekutif, legislatif, dan mempolarisasinya menjadi asupan bagi kepentingan konsolidasi massa di akar rumput.
.
Kaum komunis dijaman now telah memodifikasi tindakan formal organisasinya. Berbanding terbalik ketika dimedio 1948-1965. Mereka di alam milineal ini berkompromi dengan para komprador, bahkan tak sungkan bersama-sama penjahat HAM bersenda gurau di satu meja. Belum lagi akses kebijakan di pusat pemerintahan yang menguat untuk memastikan selamatnya persalinan bayi revolusi komunis ala Mao Tse Tung.
.
Kondisi inilah bagi Kaum Pergerakan Islam tertuntut cekatan menajamkan pengejawantahan mabda luhurnya, hingga dapat menjawab secara kongkrit ancaman domestik di Bumi Pertiwi.
.
Metamorfosis dipihak lawan bersama sekutunya (kaum ekstremis dan komunis) nyaris rampung membangun Persekongkolan Kontra Islam (PKI). Mereka agresif menjulurkan gurita hipokritnya membelit trend-setter kebangsaan dengan jargon Pancasila dan ke-Bhinneka-an. Dan pada pihak Islam, lagi-lagi, di kurung dalam prodeo kusumat berjuluk ‘radikal dan intoleran’, anti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
.
Subjektifitas pada Kaum Pergerakan Islam segera mesti disirnakan. Karena arena pertarungan mendesak pekik takbir tak sekedar membahana di ruang hampa. Evaluasi jejaring dari hulu hingga hilir dan menginjeksikan kembali elan mujahadah pada Umat Islam Bangsa Indonesia menjadi agenda yang mendesak. Kekosongan di selasar sosial-ekonomi masyarakat urban dan pedesaan juga jangan luput di-shibghah, karena ini merupakan pusaka sejarah yang dianugrahkan kepada kita. (GR)
.
Semoga ALLOH Azza wa Jalla melindungi, memampukan, dan merahmati kita. Aamiin.
Billahi hayaatuna wallohu fii hayaatil mustadl'afiin

#BelaUlama
#BelaIslam

Newest
You are reading the newest post

Related Posts

2/21/2018 03:32:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar