Iklan

MEMBURU HOAX !

Posted by Gerakan Rakyat on Sabtu, 06 Januari 2018



GERAKAN RAKYAT - Kiwari Hoax menjadi perbincangan menghangat di masyarakat. Hoax seolah menjelma menjadi “mahluk” yang meresahkan banyak pihak hingga perlu ditangani secara khusus oleh lembaga pemerintahan. Dengan investigasi ala agen intelijen M16 (Dinas Intelijen Rahasia Britania Raya), dan konon kini diperkuat menggunakan teknologi canggih bernilai 190 milyar lebih, Hoax diburu !

Menyoal fenomena Hoax ini, tak sedikit dari lingkungan penjabat negara angkat bicara mengenai Hoax, seperti Anggota Komisi Bidang Informasi DPR RI, Sukamta menjelaskan bahwa, “Berita bohong (hoax) akan hilang jika pemerintah bekerja dengan baik. Oleh karena itu, Sukamta meminta pemerintah tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat. Oleh karena, maraknya berita hoax tersebut mencerminkan kinerja pemerintah yang kurang berperan baik sebagai sumber informasi”. [Lihat: https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/01/09/109377/anggota-dpr-jika-pemerintah-bekerja-baik-berita-hoax-hilang-sendiri.html]

Maman Imanulhaq yang juga Anggota DPR RI mengutarakan, "Penyebar berita hoax memiliki pandangan bahwa jika kebohongan dilakukan dengan masif maka lama-kelamaan akan dianggap sebagai fakta”. [Lihat: https://www.antaranews.com/berita/607311/anggota-dpr-ajak-masyarakat-aktif-lawan-hoax]

Gaung Hoax begitu menggema merayapi selasar ruang informasi publik, hipotesis ini kiranya yang tengah menggejala. Hoax menyeruak ke permukaan dan telah memakan korban. Hoax mengancam, sedari kepentingan pribadi warga negara sedang martabat pemangku kebijakan negara, begitulah situasi yang terkesankan karena ulah “Si Hoax”.

Wikipedia mencatat bahwa Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Senada dengan Wikipedia, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI Online) menuliskan tiga arti dari Hoax, yakni, Kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi; Berita bohong; Berita bohong, tidak bersumber.

Apa yang dicatatkan oleh Wikipedia perlu terurai dengan pendekatan contoh untuk mudah memahaminya. Misal:

“Presiden RI, Ir. Joko Widodo, meresmikan Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta menggunakan busana dengan kemeja batik khas Solo.” Tentunya peryataan dari informasi ini akan disangkal karena tidak benar. Contoh ini memenuhi apa yang dicatatkan oleh Wikipedia.

Atau,

“Terpidana Ahok saat ini sedang mendekam di dalam Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.” Pun ini juga akan dibantah. Contoh informasi ini sesuai dengan maksud Wikipedia.

Seperti Wikipedia, KBBI Online menuliskan arti dari Hoax yang perlu diapresiasi menggunakan contoh dari arti yang dimaksud. Misal:

Arti pertama; kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi:
“Jokowi memecat Ribka Tjiptaning penulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI dari kepengurusan PDI Perjuangan”. Kata 'memecat' pada kalimat informasi tersebut tidak benar, dikarenakan Jokowi bukan pemutus kebijakan partai yang dapat memberhentikan Ribka Tjiptaning dari keanggotaan/kader di PDI Perjuangan.

Arti kedua; berita bohong:
“Untuk memenuhi janjinya saat kampanye Pilpres, Jokowi pada tahun 2017 menurunkan harga Tarif Dasar Listrik”. Ini adalah contoh berita bohong.

Arti ketiga; berita bohong, tidak bersumber:
“Akhirnya Jokowi melalui Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan memerintahkan untuk menyampaikan tawaran penjualan mayoritas saham BUMN kepada Pemerintahan China”. Informasi dari berita ini bohong dan tidak bersumber. Adapun sepatutnya perintah dari Jokowi itu tak melalui Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, tetapi harus dengan lembaga negara, seperti Kementerian RI.

Terlepas definisi yang terpapar dari Wikipedia dan KBBI Online, Dosen Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung, Maimon Herawati M.Litt menjelaskan bahwa hoax atau fake news (berita palsu) itu ada di dalam strategi komunikasi perang. “Dalam sisi strategi komunikasi perang, itu ada namanya proxy war, atau disebut propaganda. Bisa disebut juga sebagai psy war atau perang mental. Dan itu dibenarkan dalam strategi perang,” ujarnya kepada Kiblat.net. [Lihat: https://www.kiblat.net/2017/01/18/pakar-komunikasi-hoax-ada-dalam-strategi-komunikasi-perang/]

Lebih lanjut Alumnus Newcastle University ini mengatakan, bahwa hoax atau fake news biasanya dilakukan dengan cara mengeluarkan berita-berita yang bombastis tapi tidak sesuai kenyataan. Hal ini digunakan untuk menghancurkan mental musuh.

Namun, jika dalam kaidah jurnalistik, membuat berita hoax ataupun berita bohong sangat jelas keharamannya. Karena berita harus berdasarkan fakta yang sebenar-benarnya.

Maimon menjelaskan, membuat sebuah berita tidak boleh berdasarkan karangan, atau fakta yang dibuat-buat, kemudian dimunculkan untuk diberitakan. “Bukan kemudian fakta yang dibuat-buat, yang dimunculkan untuk kemudian ditangkap dan diberitakan seakan sebuah kenyataan pahadal tidak,” pungkas Maimon.

Jauh sebelum jaman now, hoax (berita bohong) ternyata sudah dijadikan “senjata” sejak masa revolusi oleh intelijen Belanda. Biasanya cara-cara perang urat syaraf itu efektif membuat situasi kacau di garis belakang pihak Republik. Almarhum Jenderal A.H. Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam hoax yang diciptakan NEFIS karena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. [Lihat: http://historia.id/modern/hoax-masa-revolusi]

“Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam Tentara Nasional Indonesia Bagian I.

Sejarah mengenai Hoax selalu tertaut dengan peradaban manusia. Antara Si Penguasa dengan yang dikuasainya; Antar Negara dengan Negara lainnya, Antar Kelompok dengan Pesaingnya. Tersebut sejumlah Hoax pada jaman old yang membekas hingga kini di daerah Hoax itu menggurita, seperti:


  1. Oplah Berganda buat Hearst. Pada 1889 pengusaha AS William Hearst ingin agar AS mengobarkan perang terhadap Spanyol di Amerika Selatan. Untuk itu ia memanfaatkan surat kabarnya, Morning Journal, buat menyebar kabar bohong dan menyeret opini publik, antara lain tentang serdadu Spanyol yang menelanjangi perempuan AS. Hearst mengintip peluang bisnis. Karena sejak perang berkecamuk, oplah Morning Journal berlipat ganda.
  2. Kebohongan Memicu Perang Dunia. Awal September 1939, Adolf Hitler mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia telah "menembaki tentara Jerman pada pukul 05:45." Ia lalu bersumpah akan membalas dendam. Kebohongan yang memicu Perang Dunia II itu terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena sejak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.
  3. Kampanye Hitam McNamara. Kementerian Pertahanan AS mengabarkan bahwa kapal perang USS Maddox ditembaki kapal Vietnam Utara pada 2 dan 4 Agustus 1964. Insiden di Teluk Tonkin itu mendorong Kongres AS menerbitkan resolusi yang menjadi landasan hukum buat Presiden Lyndon B. Johnson untuk menyerang Vietnam. Tapi tahun 1995 bekas menhan AS, Robert McNamara, mengakui insiden tersebut adalah berita palsu.
  4. Bukti Kosong Powell. Pada 5 Februari 2003 Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, mengklaim memiliki bukti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak pada sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Meski tak mendapat mandat PBB, Presiden AS George W. Bush, akhirnya tetap menginvasi Irak buat meruntuhkan rejim Saddam Hussein. Hingga kini senjata biologi dan kimia yang diklaim dimiliki Irak tidak pernah ditemukan. [Lihat: http://www.dw.com/id/6-kabar-hoax-yang-menyulut-perang/g-37072878]


Mencermati sepak terjang Si Hoax yang telah memiliki rekam jejak sedari jaman old sedang jaman now, Hoax cendrung bersifat destruktif. Kepada pihak yang berlawanan darimana Si Hoax itu diluncurkan, dampak kerusakkan dapat menuai korban jiwa tak terperikan.

Akan lain halnya apabila pada situasi perang seperti apa yang disebutkan oleh Maimon, Hoax mendapatkan dirinya “dihalalkan” sebagai psy war atau perang mental untuk melemahkan lawan. Apakah ini senafas dengan yang diungkapkan oleh Mayjen TNI Purn Djoko Setiadi soal “hoax membangun”?

Ah, Hoax apapun bentuk dan embel-embelnya tetaplah Hoax, termasuk pencitraan yang berbanding terbalik dengan kenyataan sejatinya adalah varian dari Hoax. Dusta. Tipu daya. Muslihat. Pepatah mengatakan, "untuk menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi", begitu seterusnya. (Berbagai Sumber/GR)

Previous
« Prev Post

Related Posts

1/06/2018 01:20:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar