Iklan

MUSLIM PASUNDAN

Posted by Gerakan Rakyat on Minggu, 31 Desember 2017


GERAKAN RAKYAT - Meng-Islam-nya (karuhun) Sunda itu, lebih ibarat "keris manjing warangka", pucuk dicinta ulam tiba, antara keyakinan TOKID [TAUHID] PURBA "titilar Aki Purba" Eudeum (AS) ke dalam kesempurnaan nubuwwat dan syare'at ke-Muhammad-an yang dibawa para da'i penyebar Islam meski beserta segala sisipan identitas kulturalnya. Sunda mengIslam, bukan semata-mata karna alasan-alasan; praktis, ekonomis, atau politis. Semasa pra-Islam, Sunda tak pernah menjadi Hindu-Budha kecuali sekedar elitis-minoritas saja. Tak ada candi-candi ditemukan di Tatar Pasundan, kecuali candi mini Cangkoang di Garut dan satu dua lainnya.

Secara KULTURAL, Muslim Pasundan, mestinya, tetap mandiri pada identitas kebudayaan (dalam dialektisnya) yang alami. Meski pernah dengan massif "di-invasi di-jawanisasi" oleh kerajaan Mataram di masa silam. Meski secara eskalatif "di-westernisasi" oleh globalisme serta di timur-tengahkan oleh ormas-ormas Islam imporan, sekarang.

PUI, PERSIS dan MATHLAUL ANWAR, adalah ormas Islam yang lahir di sini, sayangnya menjadi pribumi yang me-marginal, tergerus arus besar "pen-jawa tengah-an" oleh Muhammadiyyah, "pen-jawatimur-an" oleh NU.

Dan, di-JAWA (Barat)-kan oleh kekuasaan.

Di pulau SUMATERA, tak ada Etnis Sumatera, nomenklatur nama provinsi berdasar pembagian wilayah menjadi SUMUT, SUMSEL, SUMBAR sama sekali tak bermasalah juga Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi JAWA Beda. Selain nama pulau, JAWA juga adalah nama IDENTITAS ETNIS.

JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH, sangat relevan. Letaknya di pulau Jawa bagian timur dan tengah, penghuninya SUKU JAWA. JAWA BARAT? ini persoalan. Betul ia adalah bagian barat dari pulau Jawa, tetapi sungguh penghuninya BUKAN SUKU JAWA. Ia SUNDA! Berbudaya dan berbahasa SUNDA!

Pen-JAWA-an terhadap SUNDA, sebenarnya, adalah sebuah peminggiran - untuk tidak mengatakannya penghilangan- IDENTITAS KULTURAL, tak terkecuali dalam lingkup TRADISI KEAAGAMAAN atau sekedar nomenklatur nama Provinsi yang telah kadung berurat akar, bermulti-konsekuensi. 

Oleh: Taofik Al Rakhman
Sumber: https://www.facebook.com/trahcakra/posts/1557853524305192?pnref=story

Previous
« Prev Post

Related Posts

12/31/2017 11:20:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar