Iklan

KEBENARAN PENTING DI BALIK PERTENGKARAN KECIL SOEKARNO DAN SOEDIRMAN

Posted by Gerakan Rakyat on Sabtu, 23 Desember 2017

GERAKAN RAKYAT - Kita mungkin pernah mendengar soal pertengkaran kecil antara Bung Karno dengan Jenderal Soedirman pada detik-detik ketika Belanda melakukan agresi militernya yang kedua pada pagi buta, Minggu, 19 Desember 1948. Sesudah dihujani bom dan peluru selama kurang lebih satu jam, Yogyakarta, yang waktu itu menjadi ibukota Republik, kita tahu kemudian jatuh ke tangan Belanda, dan sebagian pemimpin negara, termasuk Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, beserta sejumlah menteri, menjadi tawanan.

Tapi pertengkaran itu tak pernah diakui oleh Bung Karno. Dalam autobiografinya, “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia” (1966), yang ditulis oleh Cindy Adams, ia mengisahkan fragmen penting itu dengan nada lain.

Matahari belum lagi mengintip saat Jenderal Soedirman mendatangi istana dan membangunkannya. Kala itu, panglima perang itu masih berumur 32 tahun.

“Saya minta dengan sangat agar Bung Karno turut menyingkir. Rencana saya akan meninggalkan kota ini dan masuk hutan,” demikian Soedirman. Saat itu Bung Besar tengah berpakaian. “Bung, pergilah bersama saya,” pintanya.

Sembari mengenakan pakaian, Bung Karno memberi instruksi tegas, “Dirman, engkau seorang prajurit. Tempatmu di medan pertempuran dengan anak buahmu. Dan tempatmu bukanlah pelarian bagi saya. Saya harus tinggal di sini, dan mungkin bisa berunding untuk kita dan memimpin rakyat kita semua.”

“Kemungkinan Belanda mempertaruhkan kepala Bung Karno. Jika Bung Karno tetap tinggal di sini, boleh jadi Bung dibunuh,” balas Soedirman.

Bung Karno segera menjawab, “Dan kalau saya keluar dari sini, Belanda mungkin menembak saya. Dalam kedua hal itu saya tetap menghadapi kematian. Tapi jangan khawatir, saya tidak takut.”

Soedirman melangkah keluar dengan cemas sembari melihat udara. Waktu itu masih jam 03.30. Mereka memang belum mendengar raungan pesawat tempur Belanda. Tapi malam tadi, menjelang tengah malam, Belanda sudah mengumumkan pembatalan perjanjian Renville.

“Apakah ada instruksi terakhir sebelum saya berangkat?” tanya Soedirman.

“Ya. Jangan adakan pertempuran di jalanan dalam kota. Kita tidak mungkin menang. Tetapi pindahkanlah tentaramu ke luar kota, Dirman. Dan berjuanglah sampai mati. Aku perintahkan kepadamu untuk menyebar tentara ke desa-desa,” jawab Soekarno.

“Ini adalah perang gerilya semesta. Sekalipun kita harus kembali mengamputasi tanpa obat bius, dan mempergunakan daun pisang sebagai perban, namun jangan biarkan dunia berkata bahwa kemerdekaan kita dihadiahkan dari dalam tas seorang diplomat. Perlihatkan kepada dunia bahwa kita membeli kemerdekaan itu dengan mahal, dengan darah, keringat dan tekad yang tak kunjung padam,” lanjut Bung Karno. “Dan jangan keluar dari lurah dan bukit hingga Presidenmu memerintahkannya.”

Begitulah percakapan Bung Karno dengan Jenderal Soedirman pagi itu. Ia membakar semangat panglima perangnya. Tak secuilpun ia menyinggung kekecewaan pembantunya tersebut. Padahal, dalam buku Asvi Warman Adam, “Menguak Misteri Sejarah” (2010), misalnya, ditulis jika Soedirman sebenarnya kecewa terhadap Presiden Soekarno, karena sebelumnya Presiden pernah berjanji akan ikut bergerilya.

Di mata sejumlah tentara yang tak paham akan situasi, batalnya Bung Karno dan para pemimpin Republik yang lain untuk ikut bergerilya telah dibumbui oleh penilaian negatif seolah Bung Karno ingkar janji, takut, serta sejumlah penilaian buruk lainnya. Bahkan, peristiwa itu telah diberi framing negatif sebagai bukti pengecutnya para pemimpin sipil dalam menghadapi agresi militer Belanda.

Penilaian itu tentu saja keliru. Kenyataan bahwa Bung Karno tak menyinggung pertengkaran kecil soal gerilya itu dalam otobiografinya bukanlah upaya Bung Karno untuk menutup-nutupi peristiwa tersebut seolah peristiwa itu menjadi aib bagi dirinya. Bung Karno sengaja menutupi peristiwa yang sebenarnya justru karena ia sangat mencintai Jenderal Soedirman dan ingin menjaga nama baik tentara Indonesia.

Dalam buku “Ayahku, Maroeto Nitimihardjo, Mengungkap Rahasia Gerakan Kemerdekaan" (2009), yang disusun oleh Hadidjojo Nitimihardjo, diceritakan bahwa tuduhan terhadap Bung Karno bahwa mereka enggan melakukan perang gerilya pada saat Agresi Militer Belanda II, padahal sebelumnya Si Bung telah berjanji akan melakukan perlawanan, menurut Maroeto adalah fitnah dari kalangan militer yang tak paham duduk perkara secara utuh. Maroeto adalah salah satu tokoh Murba, partai yang dibesut oleh Tan Malaka.

Soekarno, menurut Maroeto, adalah seorang pemberani. Saat Belanda membombardir Maguwo, Bung Karno meminta Jenderal Soedirman untuk memberikan satu kompi pengawal. Satu kompi merupakan satuan militer yang terdiri dari 100 orang. Dengan pengawalan satu kompi itu, Bung Karno akan ikut dan memimpin gerilya.

Celakanya, militer tak sanggup mendatangkan satu kompi yang diminta oleh Presiden. Sebab, sebuah fakta yang tak banyak diceritakan dalam buku-buku sejarah, pada saat Belanda merebut Yogyakarta, tentara kita sejak beberapa waktu sebelumnya justru sedang mengosongkan kota. Mereka ditarik ke luar kota untuk latihan perang gerilya. Jadi, saat Belanda menyerang dengan perang betulan, para tentara kita sedang latihan perang-perangan di luar kota.

Menurut Maroeto, Jenderal Soedirman terlalu percaya terhadap perkiraan Tan Malaka mengenai perang gerilya, namun abai memperhitungkan soal kapan Belanda bisa melakukan agresi. Itu sebabnya, ia terlalu cepat mengerahkan pasukan ke luar kota, sehingga tak menyisakan banyak tentara di Yogyakarta pada Desember 1948 itu.

Pagi itu Bung Karno marah sekali saat permintaan satu kompi pasukan itu tak sanggup dipenuhi. Itu sebabnya Si Bung tentu saja harus memikirkan ulang strategi menghadapi situasi tersebut. Tentunya tidak lucu, dan bahkan cenderung konyol, jika Presiden dan Wakil Presiden pergi untuk bergerilya tanpa sedikitpun pasukan, di mana bahkan satu kompipun tidak sanggup disediakan oleh kepala staf angkatan perang.

Namun, Bung Karno, sebagaimana yang tadi telah disinggung, tak pernah mengungkit-ungkit kegagalan militer menyediakan satu kompi pasukan pada saat agresi militer tersebut. Dia tidak pernah menyerang Jenderal Soedirman atau perwira tinggi militer lainnya.

Menurut Maroeto, hal itu sengaja dilakukan Bung Karno untuk menjaga agar nama TNI tetap harum di mata masyarakat, sekaligus untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kemerdekaan kita bukan dihadiahkan dari tas seorang diplomat. Namun, dalam penilaian Maroeto, sebagian perwira militer yang tak tahu masalah, secara ceroboh telah menjadikan peristiwa itu sebagai celah untuk menyerang Bung Karno, sebuah tindakan gegabah yang menurut Maroeto sebenarnya sangat mempermalukan militer kita sendiri.

Apa yang dilakukan oleh Bung Karno dalam menjaga nama baik angkatan perangnya patut untuk diberi penghargaan besar. Tidak sepatutnya dia didiskreditkan hanya karena pengetahuan kita yang terbatas atas peristiwa perebutan Yogyakarta tanggal 19 Desember 1948.

T.B. Simatupang, yang waktu itu masih berpangkat kolonel, dalam bukunya, “Laporan dari Banaran” (1961), juga berpandangan bahwa sikap presiden itu sudah tepat. Sebab, jika Bung Karno ikut bergerilya, diperlukan banyak pengawal untuk menjaga keselamatannya, paling tidak satu batalyon. Satu batalyon biasanya terdiri dari sekitar 700 hingga 1.000 personil militer. Dan kenyataannya, demikian Simatupang, tentara kita waktu itu tak sanggup menyediakannya.

Jadi, saat Bung Karno memanggil kembali Jenderal Soedirman ke Yogyakarta sesudah Pernyataan Roem-van Roijen, dan meminta fotografer untuk melakukan pemotretan ulang hingga beberapa kali atas adegan ia memeluk panglima perangnya tersebut, kita jadi tahu betapa jembarnya hati Bung Besar. Ia tak sakit hati telah disalahpahami oleh jenderalnya.

Bung Karno tak pernah menceritakan pertengkaran kecilnya dengan Soedirman pada pagi buta tanggal 19 Desember 1948 itu. Ia memilih menutupi fragmen kecil itu, meskipun di luaran sana sejumlah orang yang tak paham akhirnya menyalahpahami peristiwa tersebut. Generasi militer yang lebih muda harus mengetahui kebenaran di balik peristiwa tersebut.

Sebagai pemimpin, ia lebih hirau untuk menjaga nama baik bangsanya daripada nama baiknya sendiri. Itu pula sebabnya, kepada Profesor Sardjito, Presiden Universiteit Negeri Gadjah Mada, Bung Karno meminta agar hari kelahiran UGM ditetapkan menjadi 19 Desember 1949, meskipun UGM telah selesai terbentuk sejak 16 Desember 1949 melalui fusi sejumlah perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta dan Klaten.

Dengan dipilihnya tanggal 19 Desember 1949 sebagai hari kelahiran UGM, yang merupakan perguruan tinggi negeri pertama yang didirikan oleh kaum Republikein, Bung Karno ingin menunjukkan kepada dunia bahwa setahun sesudah Yogyakarta diduduki oleh Belanda, Indonesia menjawabnya dengan pendirian sebuah perguruan tinggi nasional. Sebuah pesan simbolik yang kuat.

Melalui kesaksian Maroeto Nitimihardjo kita jadi tahu, Bung Karno tak pernah ingkar janji soal gerilya. Dan ia sangat mencintai dan menjaga kehormatan angkatan perangnya. (TN)


Oleh: Tarli Nugroho
Sumber: https://www.facebook.com/tarli.nugroho/posts/10156173470268606

Previous
« Prev Post

Related Posts

12/23/2017 02:52:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar