Kiamat Sosmed di Indonesia Sebentar Lagi

Oleh:   Gerakan Rakyat Gerakan Rakyat   |   11/20/2017 02:36:00 PM
GERAKANRAKYAT.COM - Lewat sosmed para oposan saling berkonsolidasi hingga dijuluki barisan sakit hati. Barisan pro rezim ketat mengamankan kursi yang kemudian disebut kecebong/cebonger. Keduanya eksis dan narsis. Saling hantam, padu dalam membuat isu, merangkai berita dengan hasil olahan agitatif para pekerja redaksi. Dan, sampai sini jurnalisme hanyalah polesan dari ide-ide dasar yang telanjang.

Sudah 5 tahun lamanya Indonesia mendapat limpahan berkah sosmed yang bergairah. Semenjak sosmed disadari mampu menaikan citra, maka JASMEV lah yang pertama menyeriusinya dengan mengorbitkan dua tokoh untuk mengisi posisi Cagub dan Cawagub. Semenjak dimulai, taringnya sangat kelihatan dan pendanaannya tergolong besar. Derivatnya mengisi celah komentar portal berita online, memobilisasi akun robot,  tweetwar, Trending Topic, menyerang lawan, dan memproduksi propaganda lewat kata, gambar, dan video. Mereka tertawa bangga, hingga citra yang dibuatnya menembus galaksi kekuasaan yang tak sederhana. Rezim terbentuk, pengisinya adalah para pendukung setia.

Kehidupan terus bergulir, ini dimanfaatkan oposisi untuk menancapkan akar dengan basis-basis kecil namun banyak. Meski telat, lambat laun terus menguat. Lewat berbagai macam sosmed, kekuatan terbentuk dan pukulan bertubi-tubi tak lagi seperti gelitikan. Berbagai pukulan untuk menggoyang bervariasi macamnya. Kadang seperti pisau yang tajam, namun tak jarang layaknya bogem yang digerakan kencang.

Lalu dimana posisi umat Islam?

Lima tahun silam kekuatan umat Islam di sosial media sama sekali tak terdengar, yang ada hanyalah bahasan-bahasan fiqh yang dimonopoli salafi/wahabi. Sikap terhadap isu keumatan hanya seperti riak-riak kecil tak terstruktur.

Namun perubahan besar terjadi semenjak aksi 212 yang menemukan common enemy hingga terbentuk poros baru selain Pro rezim dan Oposisi. Poros umat Islam ini terdiri dari lintas ormas, lintas madzhab, bahkan lintas generasi dan partai Islam. Meski besar namun poros ini tanpa bentuk dan pendanaan. Bergerak secara sukarela, poros ini terkadang lebih sering disebut oposisi karena isu yang dibawa kritis laris manis dalam mengoreksi rezim.

Kami melihat yang lebih dominan di poros ini adalah HTI (sebelum dibubarkan) dan FPI. Kesamaan misi dalam memerjuangkan terapnya Syariah Islam telah menjadi magnet baru dari dahaga dan kerinduan umat terhadap hukum Allah. Kritik terhadap sekulerisme, kapitalisme dan demokrasi dengan menawarkan gagasan Islam sebagai solusi sangat cepat diambil umat. Tak butuh waktu lama, momentum keterbukaan umat ini diambil HTI untuk mengorbitkan slogan "haram pemimpin kafir" hingga mampu mengayuhnya dengan bantuan masa FPI, FUI, GNPF menuju 7 juta masa pada aksi 212.

Aset umat yang besar ini berlanjut dan terus menggoyang posisi rezim. Hingga lelah dan kehabisan cara, upaya meredupkan kekuatan ini disiasati rezim dengan Isu Anti Kebhinekaan, Anti Pancasila dan Radikalisme dalam tafsiran tunggal.

Propaganda ini masif dihembuskan dengan menggunakan perangkat UU ITE, dan organ di bawah kementrian. Kampus, perkantoran, pabrik, hingga RT/RW terkena dampaknya. Hal ini diperkuat lewat beberapa Triliun dana yang diinfakan rezim terhadap salah satu ormas Islam, maka adu domba dimulai. Pembubaran, seminar bahaya deradikalisasi, permainan isu berita, dikerjakan dengan baik oleh ormas ini dengan tetap pelaporan rutin pada sang tuan. Kerja keras mereka telah menciptakan sebuah opini bahaya gerakan Islam berideologi radikal yang berhasil menghantam HTI dan keluarlah keputusan pembubaran dan Perppu Ormas. Syahid.

Semua Dilakukan untuk Amankan Kekuasaan

Bisa dibilang kekuasaan yang dibentuk lewat citra media akan terancam juga dengan media. Begitulah yang mampu kita petik dari ulasan perjalanan negeri ini dalam menyikapi sosmed. Dan pertarungan tiga poros kekuatan ini akan semakin memanas dan menakutkan beberapa waktu menjelang pemilu. Akhir tahun 2018 diprediksi memunculkan tragedi drama.

Dalam hal ini meski berbeda tujuan, poros Oposisi dan Umat Islam akan terus ditekan untuk meredam kritisme terhadap kebijakan rezim. Penangkapan-penangkapan para aktivis yang kontra akan semakin marak dan banyak dengan dalih menebar kebencian. Dan semua perangkat negara bisa jadi akan dikeluarkan untuk amankan kursi kuasa. Dari mulai Perppu, UU, Penjara, Kementrian, Media, Dewan Pers, sudah mulai terbaca, hanya satu yang belum dilakukan pilihan terakhir, menerbitkan Perppu Sosmed dengan alasan yang sama "kegentingan memaksa".

Ditulis Oleh :
Santri Kalong



Tampilkan Komentar