TITIK NOL KEHENDAK BERPEMERINTAHAN SENDIRI

Oleh:   Gerakan Rakyat Gerakan Rakyat   |   7/08/2017 12:15:00 AM
GERAKAN RAKYAT - Sejak  Pangeran Diponegoro diperdaya Kolonial Belanda (1830) bara api bagai sekam dalam jiwa-jiwa para pelanjutnya untuk terus memperjuangkan kemerdekaan bangsa pribumi Muslim. Seiring dengan peralihan abad  XX, kebijakan politik Hindia Belanda dengan Politik Ethis-nya  (1900)  memberi peluang untuk melakukan gerakan-gerakan yang lebih luwes dilakukan.

Dan itu, muncul di tanah Laweyan, Surakarta. Sepulangnya H. Samanhudi dari Mekkah (1902), dibentuklah  Sarekat Dagang Islam (1905), sebuah perhimpunan atas dasar akidah Islam dengan perdagangan sebagai inti kekuatan gerakan. Dagang  adalah kosakata yang dekat dengan bai’ah (perjanjian, jual beli) dan madaniah (perniagaan) serta wilayah yang merdeka seperti Madinah al Munawarroh.

Maka, berbekal kekuatan akidah, ekonomi dan perdagangan, selama sepuluh  tahun H. Samanhudi dan kawan-kawan membangun fondasi bagi kemunculan sebuah organisasi politik pertama di Nusantara, bahkan di kawasan Dunia Islam, yaitu Sarekat Islam dan siap untuk memproklamasikan  diri kehendak berpemerintahan sendiri (zelf bestuur) pada tahun 1916.

Keyakinan dan keberanian untuk ‘memproklamasikan’ kehendak berpemerintahan sendiri bagi bangsa pribumi Muslim di tengah kekuasaan kolonial Hindia Belanda, tentulah sudah dipersiapkan matang. Bermula dari Laweyan: Kampung Merdeka, ke Surabaya, dan berakhir ke Tanah Pasundan,  di Bandung tempat berikrarnya.

Tjokroaminoto berpidato lantang, di alun-alun Bandung dan Gedung Concordia, pusat aktivitas elit Eropa, seolah-olah ingin menyuarakan bahwa peradaban Barat harus tunduk dibawah kuasa peradaban Islam yang mulia.

Titik Nol-nya ada di Bandung pada tahun 1916, awal keyakinan dan kehendak berpemerintahan sendiri bagi bangsa Muslim di Nusantara telah dilakukan Sarekat Islam (SI) 100 tahun yang lalu. Dan kini, jika sudah kuat kehendak untuk mewujudkannya, maka bangsa Muslim Indonesia harus melanjutkannya dengan  menjadikan Islam sebagai landasan gerak, ideologi, dan pandangan dunia (world view)”.

Titik  Nol itulah  yang menjadi pemandu bagi kita bangsa Muslim Indonesia untuk  mewujudkan Islam sebagai Dinulloh dan Al Quran sebagai Kitabulloh, yaitu Islam yang dijalankan dengan sepenuh-penuhnya dan seluas-luasnya (kaffah), meliputi aspek politik, pemerintahan, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan pertahanan keamanan.

Buku  ini  ingin menegaskan sebuah kesadaran  sejarah   kepada bangsa Muslim Indonesia, bahwa Titik Nol kehendak berpemerintahan sendiri di negeri ini haruslah berlandaskan Islam dan  bersyarikat  dengan  Islam  sebagai  pandangan hidup, pandangan dunia (world view), hukum, dan pengaturan berkehidupan  berpemerintahan.

Peristiwa NATICO I membawa pesan utama, tentang TITIK NOL kesadaran  berpemerintahan sendiri dengan peraturan perundangan-undangan al Quran sebagai Kitabuloh bagi  kesejahteraan dan kedamaian seluruh bangsa  yang bernama Indonesia (kelak) Inilah yang harus dilanjutkan, diestafetkan, dan diperjuangkan hingga mencapai “Fathhan Mubiina”.

Uraian di atas merupakan ulasan singkat dari Buku yang berjudul TITIK NOL Kesadaran Berpemerintahan Sendiri (Zelf Bestuur)-1916, yang akan segera diterbitkan pada bulan Agustus 2017. Buku tersebut ditulis oleh seorang master ilmu sejarah dan  dua orang aktivis pergerakan Islam, yang satu diantaranya yakni aktivis politisi perempuan pergerakan Islam era 1980-an. 

Buku yang mengupas peristiwa sejarah awal bangsa Indonesia ini, sungguh patut dimiliki oleh seluruh anak bangsa, terkhusus bagi Kaum Pergerakan, buku ini dapat menjadi buku saku Kesejarahan Pergerakan Islam Indonesia. [GR]


Judul Buku: TITIK NOL Kesadaran Berpemerintahan Sendiri (Zelf Bestuur)-1916
Penulis: Nunu A. Hamijaya, Fathia Lestari, Nunung K. Rukmana
Penerbit: Pusat Kajian Pembangunan Karakter Bangsa berkerjasama dengan Yayasan Masa Depan Indonesia Membangun
Tahun Terbit: Agustus 2017
Jumlah Halaman: 140 hlm +xii
Kata Pengantar: Dr. Aji Dedi Mulawarman, M.Si. (Ketua Yayasan Rumah Paneleh /Dosen Unibraw)

Tampilkan Komentar