Iklan

PUITIS atau POLITIS mana yang "lebay"?

Posted by Gerakan Rakyat on Selasa, 04 Juli 2017

GERAKAN RAKYAT - Tahun 2006, istilah "lebay" muncul dan makin populer di kalangan anak muda. "Lebay" berasal dari kata "lebih" mengadopsi pola pelafalan "I" dalam bahasa inggris yang sering diucapkan "ai". Orang yang suka melebih-lebihkan sesuatu (pembicaraan, sikap, respon, pendapat, alasan dlsb.) melebihi kenyataan sesungguhnya disebutlah "lebay". Kata yang menggambarkan orang yang sering "kaleuleuwihi" (Sunda) atau merasa diri lebih dari yang lain. Lebih pintar, lebih kapabel, lebih suci padahal senyatanya tidak. Begitulah kira-kira batasan makna "lebay" yang lahir dari sebagian kalangan muda (alay) masa "kiwari".

Makin hari istilah "lebay" kian meluas. Melintasi garis generasi. Melampaui batas usia. Merambah hingga ke kalangan tua renta. Celakanya, maknanya pun kian meluas, bergeser bahkan keluar dari batas-batas semantik saat istilah itu muncul. Tak sedikit yang menggunakan istilah “lebay” tapi tak tau artinya sama sekali. Celakanya lagi, kata “lebay” telah “memperkosa” beberapa istilah –existing—yang berkonotasi positif menjadi negatif. Tindakan-tidakan yang –sesungguhnya-- wajar menjadi dianggap tak wajar. Kata “lebay” telah dijadikan senjata untuk “meng-agresi”, “meng-agitasi” prilaku-prilaku yang bertaut dengan ekspresi hati, rasa dan jiwa. Setiap ungkapan yang bersumber dari tiga ranah itu sering di-judge ”lebay”. Berpuisi dikatai lebay. Mengpapresiasi itu lebay. Berekspresi juga lebay. Praktis, kini generasi puitis makin terkikis. Sulit ditemui, anak muda yang mengungkapakan rasa dan pengalaman batinnya melalui sebuah puisi atau karya sastra. Dalam menyatakan cinta misalnya, mereka lebih suka mengatakannya “gue suka lo”. Tak ada lagi ungkapan-ungkapan metafor, simbolik dan penuh kedalaman makna. Mereka lebih suka “to the point”, karena berpuisi adalah memalukan. Adalah "lebay". Sebuah “terror” bagi regenerasi pecinta puisi. Sastra (di kalangan anak muda) tengah di ambang kepunahan.

Padahal, senyatanya --jika menggunakan konteks makna asalnya, yaitu selalu melebih-lebihkan--, tak ada yang lebih “lebay” selain para politisi. Dunia politiklah tempat dimana, pencitraan, hipocracy dan sikap sok suci dengan mudah kita temukan. Politik adalah gerbang dan jalan untuk berkuasa. Medan kompetisi berebut empati publik. Seni memoles diri demi terlihat menarik. Dunia "trik men-trik" dan "intrik mengintrik" mencipta idola massa. The reason there are so few female politicians is that it is too much trouble to put makeup on two faces. (Maureen Murphy)

Mereka para “pendamba” kekuasaan itu, tak sungkan untuk meruahkan segenap upaya dan segala cara demi merebut hati khalayak banyak. Demi terlihat sehebat mungkin, nampak sebaik mungkin, serta bercitra sesuci mungkin. Menjanjikan ini dan itu bahkan untuk hal-hal di luar batas kapabilitasnya, Tidakkah itu juga “LEBAY”? Politicians are the same all over. They promise to build a bridge even where there is no river. (Nikita Khrushchev).

[Taofik Al Rakhman]

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/04/2017 09:04:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar