PITUNG DAN HABIB RIZIEQ

Oleh:   Gerakan Rakyat Gerakan Rakyat   |   7/17/2017 01:42:00 PM
PITUAN PITULUNG (PITUNG) DAN HABIB RIZIEQ

GERAKAN RAKYAT - Dalam beberapa biografi yang banyak beredar disebutkan kalau kakeknya Muhammad Rizieq Shihab (Habib Rizieq) yang bernama Sayyid Muhammad Shihab, pernah menikah dengan keponakan Pitung dari Kebun Nanas. Hasil dari pernikahan ini lahirlah salah satu Pejuang 45 yang bernama Sayyid Husein Shihab. Habib Husein sendiri dikenal sebagai pejuang yang militan dan pernah dijatuhi hukuman mati oleh penjajah. Habib Husein juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh politik bangsa serta alim ulama.

Terus terang sebagai fihak yang sangat konsen dengan sejarah Pitung, saya sangat penasaran sekali dengan cerita ini. Apalagi dua bulan yang lalu saya pernah bertemu dengan salah satu penduduk asli Rawa Belong yang tinggal di dekat Rawa Bunder, bernama Bang Abdurrahman yang mengatakan bahwa, kakek dan bapaknya Habib Rizieq itu sering "nyantri" kepada ulama-ulama Rawa Belong dan sekitarnya. Beliau, Bang Abdurahman yang sejarah Betawinya saya anggap top ini, bapaknya ternyata ahli maen pukulan dan juga Ustadz, hanya saja bapaknya tidak mau diekspos. Menurutnya, Habib Rizieq pernah berkata, "sesibuk-sibuknya ane kalau yang ngundang orang Rawa Belong, Insha Allah ane dateng, sebab Tenabang ame Rawa Belong udeh kayak saudara kandung..."

Perkataan Habib Rizieq mengindikasikan kalau beliau faham sejarah wilayah Rawa Belong dan sekitarnya. Rawa Belong dan sekitarnya dahulu memang medan tempur keluarga besar Pituan Pitulung (Pitung). Pusat pergerakannya terdapat di Rumah Jipang yang kini menjadi gedung Kompas Gramedia.

Sekarang... Apakah memang ada hubungan Pitung dengan kakeknya Habib Rizieq ini ?

Saya sendiri meyakini kalau neneknya Habib Rizieq itu memang keluarga Pitung. Kenapa saya yakin? Sebab jarak tautan silsilah itu masih bisa dilacak. Apalagi setahu saya kebiasaan orang Arab, baik itu golongan Sayyid atau non-Sayyid, biasanya tidak bakal sembarangan mengarang cerita tentang silsilah. Bagi mereka kedudukan seorang ibu atau nenek tetap bernilai tinggi.

Berdasarkan karakter, Habib Rizieq ini memang benar-benar mewarisi karakter asli keluarga besar Pitung yang terkenal militan dan pantang menyerah dalam berjihad. Leluhur Pitung sejak masa Fattahillah, dahulu memang dikenal sebagai musuh besar penjajah sehingga tidak heran banyak dari mereka yang mati syahid. Kerasnya perlawanan Pitung sampai-sampai membuat Snouck Hurgronje jengkel terhadap Schout Van Hinne, yang dianggap tidak bisa menangani Pitung.

Perlawanan Pitung memang bersikap terbuka, mereka bahkan berkali kali menantang para penguasa zolim dan para tuan tanah Cina untuk perang terbuka. Sehingga langkah yang mereka lakukan membuat penjajah kolonial meradang. Untuk mengatasinya maka dibuatlah politik pecah belah atau devide et impera, mereka gunakan marsose atau tentara bayaran pribumi untuk membasmi gerakan Pitung, mereka juga merekrut centeng-centeng bayaran untuk merusak nama baik Pitung. Penjajah dan para tuan tanah Cina bahkan mengintimidasi ulama yang melindungi Pitung. Tidak itu saja, penjajah banyak menyebarkan berita-berita bohong dengan mengatakan kalau Pitung adalah gerombolan perampok, pengacau dan kaum terbelakang. Teror juga dilakukan dengan cara menindas para petani kecil dan rakyat jelata. Tidak ketinggalan para ulama diawasi dengan ketat.

Pitung memang sangat keras dalam melawan kezaliman sehingga tidak heran makam mereka banyak yang tidak diketahui, karena disembunyikan bahkan juga dihilangkan. Sepanjang perjuangannya, mereka diteror, difitnah, diintimidasi sampai penggelapan sejarah menerpa mereka. Kisah Pitung adalah kisah yang penuh akan darah syuhada. Kisahnya kini sangat mirip dengan apa yang akan dialami salah satu bagian darah keturunan mereka, yaitu Habib Rizieq.

Saya tidak akan menebak nebak keluarga Pitung yang mana yang telah menikah dengan kakeknya Habib Rizieq. Apakah itu Raden Muhammad Ali dari Rumah Jipang, ataukah Ratu Bagus Roji'ih dari cengkareng atau Jebul dari rawa belong atau Abdul Shomad ataukah Saman dari cileduk atau Rais dari Tenabang. Atau anggota Pengganti Pitung yang gugur seperti penulis kitab Al Fatawi yaitu KH. Ahmad Syar'i dari kampung bambu larangan. Yang jelas diantara mereka yang saya sebut ada dua nama yang cukup dekat yaitu, Jebul dan Raden Muhamad Ali Nitikusuma (banyak yang menulisnya Salihun).

Yang membuat saya semakin kaget adalah bahwa nasibmya Habib Rizieq ini ternyata tidak kalah "seramnya" dengan nasib salah satu leluhur Pitung yang bernama Aria Jipang Jayakarta alias Aria Penangsang alias Ratu Shohibul Marifah alias Sayyid Husein. Aria Jipang atau Aria Penangsang yang merupakan cucu Raden Fattah dan santri terbaik Sunan Kudus sampai saat ini fitnah sejarahnya sudah berakar berurat. Hanya karena jiwanya yang militan terhadap Islam dia dituduh sebagai dalang kehancuran Kesultanan Islam Demak, dan sampai saat ini cerita tersebut masih dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Jawa. Sampai saat ini posisi Aria Penansang atau Aria Jipang Jayakarta sejarahnya dibuat hitam termasuk silsilah keluarganya. Padahal sebenarnya beliau itu selain alim beliau juga hafiz quran, mursyid, ahli strategi, ahli politik, ahli beladiri, dan salah satu panglima perang terbaik kesultanan Islam Demak...

Tapi sekalipun fitnah menghantam keturunan Raden Fattah ini, tapi banyak dari mereka telah menjadi besar dan hebat, mereka ada yang mujahid, waliyullah, Ulama dan juga tokoh tokoh politik bangsa. Diantara mereka yang mahsyur adalah Pituan Pitulung atau Pitung. Kelak dari tautan silsilah kekerabatan mereka akan lahir Habib Rizieq Shihab.

Wallahu A'lam Bisshowab...

[Iwan Mahmoed Al Fattah]

Tampilkan Komentar