Iklan

OBAMA MUDIK KE PAPUA?

Posted by Gerakan Rakyat on Senin, 03 Juli 2017

GERAKAN RAKYAT - Tersiar kabarnya Barack Hussein Obama ke Indonesia tidak hanya sekedar pulang kampung, selain mantan presiden Amerika itu turut menghadiri acara Diaspora Indonesia sebagai pembicara, disebut-sebut Obama akan menjadi negosiator dari pihak Freeport McMoran Amerika Serikat, dalam perundingan pengalihan kepemilikan PT. Freeport Indonesia kepada perusahaan China, adalah bukanlah kunjungan tanpa tujuan tertentu.

Telah diketahui bahwa awal dasar legalistik Freeport adalah Perjanjian yang berlatar belakang politik saat pembebasan Irian. Saat ini mayoritas pemegang saham Freeport McMoran adalah sekutu Donald Trump dari Partai Republik, semisal Carl Ichan (penasihat pribadinya),  dan keluarga Rockefeller. Freeport Indonesia bukan sekedar komoditi emas. Emas Freeport memang salah satu andalan Amerika Serikat (AS) untuk stok jaminan cetak Dollar AS, tapi itu tidak utama lagi. Di bumi Papua ada uranium. Namun, hingga saat ini belum ada kejelasan jenis produk-produk Freeport, karena yang diekspor adalah konsentrat. Freeport belum masuk tahap hilirisasi (smelter); berapa komposisi emas, tembaga, perak, dan kandungan uranium dari konsentrat yang diekspor.

Bagi Amerika, Papua bukan sekedar wilayah yang wajib dieksploitasi isi buminya saja. Papua adalah bagian dari energy security dalam konteks proxy. Tentu hal ini telah terendus sejak lama oleh negara-negara di dunia, terkhusus bagi pemilik hak veto PBB lainnya seperti Republik Rakyat Tiongkok yang tak tertinggal ikut mengincar Bumi Cendrawasih.

Dunia mengetahui betapa Indonesia telah menyumbang sebesar 93,6 % penjualan emas Freeport selama ini. Dengan kata lain, Indonesia merupakan pertambangan emas terpenting bagi Freeport McMoran Amerika Serikat. Hal itu belum termasuk dengan kandungan uranium, tembaga dan mineral berharga lainnya yang terpendam di tanah Papua, yang akhir-akhir ini tengah menjadi buruan negara adidaya. Inilah yang menjadi daya tarik hingga China ingin segera memiliki seluruh isi perut dibawah gunung Jaya Wijaya.

Lantas, mengapa Freport McMoran hendak melepas saham mayoritasnya, dan hingga “memudikkan” Obama ke Indonesia bila se-isi perut bumi Papua itu begitu berharga(?) Persoalan inilah kiranya yang perlu terjelaskan oleh lawatan Jokowi ke China berjumpa dengan Xi Jinping, pada acara “Belt and Road Forum for International Cooperation” di Beijing, 14 Mei 2017.

Desas-desus pengalihan kepemilikan saham mayoritas sebetulnya sudah merebak beberapa bulan silam selepas kasus papa minta saham tepeti-eskan. Banyak ekonom mengutarakan kemungkinan Freeport Indonesia akan beralih kepada perusahaan China. Menguaknya isu itu menjadi santer bukanlah tanpa alasan di tengah merosotnya nilai saham Freeport. Apalagi bila mencermati komunikasi politik-ekonomi Jokowi yang semakin cendrung memberikan tangan terbukanya kepada Republik Rakyat Tiongkok. Belum lagi dengan Jokowi lebih memenangkan China untuk mengerjakan proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, setelah Jokowi mendepak Jepang dengan persyaratan yang menurut pihak Jepang terlalu mengada-ada dan terlalu menguntungkan China, menjadi semakin kuat isyarat pengalih kepemilikan Freeport kepada China.

Tentu kita masih ingat, ketika reshufle kabinet awal tahun ini, Ignasius Jonan diangkat sebagai Menteri ESDM, masalah Freeport Indonesia kembali gaduh. Jonan mesti berhadapan dengan Freeport McMoran, yang sebagian pemegang sahamnya adalah elite di sekitar Trump. Tentu hitungan kekuatan hukum harus benar, karena dari pengalaman arbitrase, pemerintah Indonesia lebih sering kalah. Sudah terucap dari CEO Freeport Indonesia, Richard Adkerson bahwa nilai tuntutan Rp. 500 triliun.

Indonesia harus menyiapkan investasi untuk 51% divestasi saham Freeport, tapi justru para pemangku kebijakan malah menjadi broker saham. Heroisme pemerintah tidak lebih hanya sebagai komprador dari pihak yang mengincar saham Freeport. Dari celah inilah China masuk untuk mengambil peran menjadi pemilik mayoritas saham Freeport. Mekanismenya tak berbeda jauh dengan “trik” pembiayaan proyek Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung. Dan lagi-lagi China menyanggupinya.

Karena itu, mudiknya Obama menjadi beralasan dalam pengalihan kepemilikan saham mayoritas Freeport, meskipun pada pemilu presiden Amerika yang lalu, Obama menjadi rival bagi Trump. Freeport McMoran lebih mengutus Obama karena dianggap memahami persoalan kontrak karya Freeport yang diperpanjang 2015 silam, saat Obama masih menjabat sebagai presiden Amerika. Obama akan menjadi jembatan menghadapi perusahaan Republik Rakyat Tiongkok yang merupakan perusahaan pertambangan China bernama Zijin Mining Group Company Limited, yang notabene menjadi kepanjangan tangan dari pemerintahan Republik Rakyat Tiongkok.

Perusahaan China tersebut telah memiliki fakta potensi tambang yang masih sangat melimpah di wilayah Indonesia paling timur itu. Bukan saja soal emas yang ada dalam perut bumi Irian Jaya, atau mineral penting lainnya, disebutkan juga di lapisan tanah terdalam Papua pun tersimpan uranium yang diyakini oleh perusahaan tambang dunia sebagai persediaan uranium terbesar saat ini.

Terlepas dari persoalan pengalihan kepemilikan itu, tak sepantasnya kekayaan negeri di perjual-belikan oleh bangsa dan negara lain dengan alasan apapun. Papua itu milik Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan milik Amerika, China ataupun negara-negara lainnya. Artinya, tak ada dasar apapun negara atau bangsa lain untuk mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari apa yang dimiliki Indonesia.

Pemerintah seharusnya tak dapat membiarkan itu terjadi, apalagi jika sampai pemerintah sendiri yang memfasilitasi jual beli itu dengan menjadi komprador yang mengincar saham. Pemerintahan Jokowi harus tegas bersikap, bahwa Papua milik Indonesia dan diperuntukkan bagi Rakyat Indonesia. Pemerintah wajib berpihak pada Rakyat Papua, karena tanah Papua itu Indonesia. Milik Rakyat Indonesia ! [berbagai sumber/GR]

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/03/2017 12:30:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar