Iklan

Gagal Pahamnya Kadiv Humas Polri

Posted by Gerakan Rakyat on Sabtu, 01 Juli 2017

GERAKAN RAKYAT - Akhirnya Humas Polri gerah juga dengan polemik film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain”. Daripada menabung hujatan, terpaksa film itu dihapus dulu sampai waktu yang tidak ditentukan. Walaupun sudah dihapus, Kadiv. Humas Polri merasa tidak ada yang salah dalam film itu.

Polri meminta masyarakat melihat film itu secara utuh. "Coba dilihat secara utuh. Kalau dilihat sepenggal-sepenggal akan berbeda penafsirannya. Karena itu harus dihargai bahwa itu hasil dari karya seni", kata Setyo di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (29/6).
http://www.cnnindonesia.com/nasional/20170629140324-20-224758/polri-coba-lihat-film-kau-adalah-aku-yang-lain-secara-utuh/


Pengertian utuh bisa dibagi dua. Menonton fisik film itu secara utuh, dan memahami pesan film itu secara utuh. Plus menghargai film itu sebagai karya seni.

Kalau Kadiv Humas Polri minta masyarakat menontonnya secara utuh, apakah Polri menganggap masyarakat gagal paham? Setelah menonton film itu secara utuh malah semakin banyak keanehan. Memahami pesan film kan tergantung niat awal pembuatnya. Penonton melihat hasil akhirnya saja. Kalau kesan film itu bernuansa provokasi, maka bisa jadi niatnya juga sama. Kalau niatnya beda, berarti film itu gagal. Masa sih penonton yang harus mengasuh kegagalan film itu dalam membawa pesan. Pesan dalam sebuah film harus utuh diterima pentonton tanpa harus ada penjelasan tambahan dari pembuatnya.

Sebagai karya seni juga tidak utuh. Film itu terlalu polos, lugu, verbal, vulgar, tanpa cita rasa seni filmis sama sekali. Mulai dari skenario yang ditulis seperti ceramah, dan tanpa riset pula, sampai mengeksekusinya menjadi gambar bergerak yang dibuat apa adanya.

Kalau masih meragukan tingkat apresiasi masyarakat kebanyakan, coba simak reaksi masyarakat kelas atas.

Kurang apa anggota masyarakat yang dianugerahi jabatan menteri? Menag Lukman Hakim Saifuddin bercuit di twitternya, “Alhamdulillah, video yang mengundang kontroversi itu akhirnya ditarik kembali”.

Kurang apa angota masyarakat yang sekurangnya menjabat Ketua Dewan Pertimbangan dan Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia ? Din Syamsuddin menyayangkan beredarnya video atau film pendek berbau sara yang disebarkan oleh Divisi Humas Polri. Menurut Din, video tersebut berpotensi mendeskreditkan islam dan umat muslim. Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dua periode mengatakan, video berdurasi tujuh menit itu jelas menyakiti hati umat Islam. Dia menganggap video tersebut memberi penggambaran bahwa umat islam adalah agama yang intoleran. Din juga meminta kepada semua pihak yang terlibat, baik sutradara maupun produser dan sponsornya untuk meminta maaf.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/29/osaub2-film-berbau-sara-tersebar-din-syamsuddin-sesalkan-keterlibatan-polisi


Kurang apa anggota masyarakat yang menjabat sebagai wakil ketua MPR? Hidayat Nur Wahid sangat menyayangkan film tersebut bisa memenangkan Festival Film Polisi 2017. Film yang kemudian ditayangkan sehari sebelum Idul Fitri pada melalui media sosial Divisi Humas Polri ini kemudian menjadi polemik baru. "Alih-alih ingin menghadirkan kebhinnekaan, justru film ini kembali bisa memecah persatuan bangsa," kata Hidayat ketika dihubungi wartawan, Kamis (29/6).
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/29/osap2r-wakil-ketua-mpr-film-kau-adalah-aku-yang-lain-justru-membuat-disharmoni


Kurang apa anggota masyarakat yang sekurangnya menjabat Dewan Pakar ICMI ? Anton Tabah Digdoyo menilai film berjudul Aku Adalah Kau Yang Lain merupakan bentuk fitnah terhadap Islam. Anton menilai Polri seharusnya tidak menayangkan film tersebut karena bertentangan dengan fakta. "Film itu fitnah terhadap Islam. Bukan berdalih kebebasan berekspresi," kata Anton lewat keterangan tertulisnya yang diterima Republika.co.id, Kamis, (29/6).
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/29/osas9s-anton-film-aku-adalah-kau-yang-lain-fitnah-terhadap-islam

Bukan hanya dari tokoh agama, para dokter juga gerah menonton film itu. Sekretaris Jendral Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (Sekjen PB IDI) Dr. Moh Adib Khumaidi, Sp. OT menanggapi adegan pelayanan rumah sakit dalam Video 'Kau adalah Aku yang lain'. Menurut Adib, ada beberapa hal yang perlu dikritisi dalam video berdurasi tujuh menit itu. Pasien yang sedang kritis atau sakit berat, kata dia, seharusnya mendaftar ke Unit Gawat Darurat (UGD) atau Emergency Unit yang tidak memerlukan nomer antrian.

"Pasien akan segera dilayani sesuai tingkat kegawatannya masing-masing, bukan soal siapa yang duluan datang," kata Adib saat dihubungi Republika.co.id, Kamis (29/6) malam.
Dia juga menilai, pelayanan emergency atau UGD sudah menjadi Standard Operational Prosedure (SOP) dalam pelayanan kesehatan yang diprioritaskan. Hal ini, kata dia tentu telah dipahami dengan baik oleh pegawai rumah sakit, baik resepsionis, satpam maupun petugas pendaftaran.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/17/06/29/osbfdu330-sekjen-idi-kritik-video-anto-galon

Bukan hanya dokter, Ahli Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel juga geleng-geleng kepala. Begini katanya, “Kesantunan, manakala relasi polisi-masyarakat suram seperti sekarang, sepatutnya mewujud dalam bentuk kerendahan hati. Konkretnya, betapa luhurnya jika Polri meminta maaf kepada masyarakat luas, teristimewa kepada komunitas yang di dalam film "Kau adalah Aku yang Lain" telah difiksikan secara vulgar sebagai kaum penindas. Meminta maaf karena telah secara kurang arif mengabaikan empat hal yang ditulis terdahulu--isi, waktu, pengunggah, dan penghargaan--di balik keinginan untuk menyemikan sikap toleransi dan kebinekaan”.
http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/29/osaz61319-menanti-apologi-polri


Nah, dari pada ngeles terus mending ikut barisan antrian para peminta maaf. Mumpung masih lebaran. Bebas materai pula. [Balya Nur]
 

30062017
 

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/01/2017 09:42:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar