Iklan

Antara FIS, HAMAS, REFAH, FJP dan AKP Dalam Mengutilisasi Lawan *)

Posted by Gerakan Rakyat on Selasa, 04 Juli 2017

GERAKAN RAKYAT - Beberapa partai politik yang berasaskan Islam di berbagai belahan dunia yang menang dalam pemilihan umum di masing-masing negaranya tidak berumur panjang. Sejarah kudeta pemerintahan yang sah, oleh rezim militer hampir mewarnai dinamisasi politiknya.

Sebutlah Front Islamic du Salut yang dikenal dengan singkatan FIS di Al Jazair. Sebuah partai politik yang dalam bahasa Indonesia berarti Front Pembebasan Islam, yang memenangkan pemilu di sekitar tahun 1988. Pemerintahan sah hasil pemilihan umum ini dikudeta oleh rezim militer. Ketergesaan dalam memberlakukan undang-undang yang berasaskan kepada Islam menjadi salah satu penyebabnya. Rakyat yang selama beberapa dekade disuguhi ideologi sekuler, walau pun pada awalnya banyak mendukung FIS berbalik malah mendukung rezim militer yang membubarkan FIS dan menganulir kemenangan demokratisnya.

Di Palestina di tahun 2006, Harakah Muqawamah Islamiyah atau lebih terkenal dengan sebutan HAMAS masuk ke dalam politik praktis. Dari sebelumnya hanya pergerakan saja. Tak dinyana, masuknya HAMAS ke dalam dunia demokrasi di Palestina juga mendapatkan dukungan yang besar dari masyarakat. Partai politik berhaluan kanan ini kemudian memenangkan pemilihan umum mengalahkan Fatah, partai politik pemenang sebelumnya. Namun, kemenangan ini pun dianulir. Kemenangan HAMAS tidak diakui, dan sampai saat ini Fatah masih menjadi otoritas resmi sebagai pemerintahan di Palestina.

Di Turki pun sempat terjadi 'kudeta' terhadap Refah Partisi. Partai Kesejahteraan ini berhasil memperoleh 23% suara pada pemilihan umum. Namun, karena programnya selalu mengangkat Neo-Ottoman, pada akhirnya partai ini dibekukan. Jabatan Gubernur di kota-kota besar di Turki seperti Istanbul pun dianulir. Militer Turki khawatir, ide mengenai penegakkan syari'at Islam di negara sekuler tersebut menjadi isu yang menurut mereka mengganggu stabilitas keamanan negara. Refah Partisi pun dibubarkan. Ia dijadikan partai terlarang. Presiden partainya, Necmettin Erbakan pun dilarang berpolitik.

Beberapa waktu kemarin kita disuguhi dengan tragedi dikudetanya Presiden Mesir, Mohammed Morsi. Pemenang pemilihan umum sah dari Freedom and Justice Party (FJP) ini pun digulingkan dari kursi kepresidenannya. Tokoh-tokoh partai FJP pun ditangkap bahkan ada yang hingga dibunuh. Pemerintahannya pun digantikan oleh rezim Militer yang dipimpin oleh Jenderal Abdul Fatah As Sisi, Menteri Pertahanan yang juga sekaligus adalah panglima tentara di Mesir. Para kader FJP pun ditangkapi seiring dengan dibekukannya partai politik yang berafiliasi ke dalam organisasi Ikhwanul Muslimin.

Nah, belajar dari sini, sebetulnya mungkin partai-partai politik Islam sebaiknya tidak terburu-buru memunculkan ide-ide Islamisasi. Setidaknya dalam era masyarakat yang sedang dirundung ketakutan akan syari'at Islam itu sendiri. Islamophobia telah meracuni pemikiran masing-masing kepala di hampir 2/3 Muslim di seluruh dunia. Pemunculan ide-ide Islamisasi di saat ini justru, menurut saya, menjadi bumerang. Apalagi, sebagai pendatang baru, partai politik berbasis idelogi Islam belum memiliki kekuatan militer sebagai setidaknya backing di kursi pemerintahannya.

Ide membumikan hukum Allah adalah baik. Namun akan menjadi bumerang jika dilakukan dengan tergesa-gesa. Masyarakat akan kaget. Terlebih dengan mereka yang ketakutan, karena pemikiran-pemikiran barat yang sudah meracuninya. Dan, menurut pengamatan saya, ketergesaan inilah yang menjadi faktor terbesar dibekukan, dianulir, dikudetanya pemerintahan sah hasil proses demokrasi.

Sederhananya begini, orang yang terbiasa makan roti, pada saat dipaksa untuk makan nasi akan mengalami penolakan. Tubuhnya tidak siap. Pikirannya berontak. Ini bukan makanan saya. Beda halnya jika orang yang terbiasa makan roti tersebut sedikit demi sedikit, secara bertahap dikenalkan dengan nasi. Mulai dengan padi yang digiling menjadi tepung dan dicampurkan pada pembuatan roti atau teknis lainnnya. Selang berapa lama, tentunya orang yang terbiasa makan roti ini pun akan beralih memakan nasi sebagai makanan pokoknya.

Sejarah kemunduran peradaban Islam tidak pernah mencatat secara tiba-tiba. Mereka yang membenci Islam, menghancurkan peradaban Islam dengan metoda infiltrasi pemikiran secara bertahap. Dari mulai masyarakat lapis terbawah hingga perlahan namun pasti ke tampuk pimpinannya. Runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani bukan saja karena hebatnya Mustafa Kemal Attaturk dalam mengusung ide sekulernya. Melainkan juga buah dari infiltrasi pemikiran sekuler yang dibungkus sedemikian rupa sehingga nyaman 'dimakan' oleh para penguasa kekhalifahan pada saat itu.

Nah, Adelet ve Kalkinma Partisi, yang populer dengan sebutan AKP, partai politik yang menjadi mayoritas di parlemen dan pemerintahan Turki saat ini sebetulnya belajar lebih maju. Mereka belajar dari sejarah runtuhnya Ottoman Empire. Mereka belajar dari partai politik pendahulunya, Refah Partisi. Mereka belajar dari FIS di Al Jazair. Mereka belajar dari para pengusung ide-ide sekuler di Turki.

Erdogan, sebagai Perdana Menteri terpilih dan Abdullah Gull sebagai Presidennya, tidak buru-buru menerapkan ide perubahan Islamisasi. Tidak sama sekali. Tidak bersebrangan dengan militer Turki yang kuat ideologi Kemalism atau Attaurkism-nya. Bahkan, AKP adalah partai politik yang menyatakan diri tidak berideologi Islam.

AKP berfokus pada program-program pemerintahan yang real dan mengakar di masyarakat. Pembangunan di segala bidang lebih diutamakan daripada ide-ide Islamisasi. Dan, hasilnya pun luar biasa. Masyarakat yang pada awalnya khawatir AKP akan sama seperti Refah Partisi pendahulunya, malah berbalik mendukung. Karena kerja nyatanya mensejahterakan bangsanya lebih menjadi program yang begitu nyata terasa.

AKP dan Erdogan pun tidak pernah bersebrangan dengan militer Turki. Salah satu kekuatan militer terbesar dan terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat. Ia malah merangkul militer sebagai mitra kerjanya dalam membangun bangsa. Simbol-simbol Attaturk tidak pernah dipermasalahkan. Setidaknya sampai saat ini. Mustafa Kemal Attaturk bahkan diakui sebagai Bapak Bangsa dan Pahlawan Nasional. Makamnya dibangun megah sedemikian rupa. Apa yang baik dari Attaturk diambil, terlebih dari segi semangat nasionalismenya yang tinggi dan mengakar di seluruh masyarakat Turki.

Hasilnya, militer pun mempercayai Erdogan. Berada di belakangnya untuk sama-sama membela kepentingan bangsa Turki selanjutnya. Setelah mendapatkan kepercayaan dari militer, barulah AKP dan Erdogan mengusulkan agar setiap waktu sholat, para tentara Turki diberikan jeda istirahat untuk menunaikan kewajibannya sesama Muslim. Perlahan namun pasti, Islamisasi di tubuh militer pun terasa. Sholat berjamaah para tentara pun menjadi aktivitas rutin yang luar biasa. Diimami oleh para Imam yang ditunjuk oleh negara dan para Jenderal di shaff pertamanya.

Sejak 2002, saat AKP dan Erdogan memimpin Turki hingga kini, elektabilitasnya terus merangkak naik. Di pemilu tahun 2010, AKP memperoleh suara 49,8%. Menduduki 327 dari 550 kursi anggota parlemen. Para tokoh dan kadernya menjadi Gubernur di daerah-daerah di belahan provinsi di Turki. Masyarakat percaya. Masyarakat merasakan indahnya Islam tanpa harus ditakut-takuti dengan syari'at atau kekhilafahan Islam. Tanpa mereka sadari, masyarakat sendirilah yang meminta untuk 'diislamkan' negerinya.

Dunia internasional pun tidak bisa ikut campur dalam perpolitikan nasional Turki, karena militer dan masyarakat ada di belakang pemerintahan Erdogan dan AKP-nya. Amerika dan Israel yang acap kali menjadi sutradara pengkudetaan partai politik berbasiskan Islam terdiam dan duduk tidka bisa bersuara.

Erdogan dan AKP pun tidak gentar akan ancaman politik Amerika dan Israel saat pemerintahannya secara resmi mengumumkan bantuan kemanusiaan dan militer bagi negara-negara Muslim lainnya sepreti Palestina, Syria, Irak, dan lainnya. Ya, karena Erdogan dan AKP sepertinya telah berhasil menjadi da'i serbaguna dan tahan lama bagi 75 juta warga Turki dan juga masyarakat di belahan dunia lainnnya.

Sekulerisme di Turki pun berangsur mundur teratur. Perlahan, namun pasti. Adzan terus berkumandang di berbagai pelosok kota dan desa di Turki. Masjid mulai dipadati jamaah saat waktu shalat tiba. Minuman keras telah diatur sedemikian rupa dengan Undang-undang ketatnya. Penggunaan jilbab telah diperbolehkan di seluruh kampus dan berbagai instansi pemerintah dan swasta. Materi pelajaran agama dan akhlak menjadi kurikulum wajib yang kuantitas dan kualitasnya ditingkatkan untuk berbagai jenjang pendidikan di negaranya.

Akankah partai politik Islam di berbagai belahan dunia ini belajar dan bercermin pada keberhasilan Erdogan dan AKP dalam memimpin dan melayani bangsanya? Tentunya tidak bisa apple to apple. Tidak bisa 'plek'. Banyak juga ragam pertimbangan perbedaan yang ditinjau dari segi historis, geografis dan lain sebagainya. Namun, ide besarnya dengan 'mengutilisasi' lawan perlu jadi bahan pertimbangan.

Tidak selamanya perubahan itu harus terjadi akibat 'revolusi'. Sangat mungkin, perubahan peradaban terjadi karena rekonsiliasi.

Peradaban baru adalah keniscayaan. Salah satu dari janji Allah Yang Maha Rahman. Kapan? Hanya Hanya yang Maha Mengetahuinya. Sebagai manusia, tentunya kita hanya bisa mengupayakan dengan sebaik-baiknya dan sekeras-kerasnya dan secerdas-cerdasnya bekerja menjemputnya. [Azzam Mujahid Izzulhaq]




*) reposting tulisan lama, 2 November 2013 (sesaat setelah terjadinya kudeta berdarah di Mesir terhadap pemerintahan yang sah)

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/04/2017 08:16:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar