Iklan

MENAKAR ISI GALON: "Kau Adalah Aku yang Lain"

Posted by Gerakan Rakyat on Rabu, 28 Juni 2017

GERAKAN RAKYAT - Ada yang menyebut film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain “ adalah sebagai karya indie. Film yang dibuat khusus untuk ikut festival dengan tema tertentu, bukanlah sepenuhnya indie. Bisa jadi dari segi pembiayaannya adalah indie, tapi karyanya tidak independen, dibuat sesuai “pesanan” user. Tergantung siapa yang”memesan”. Karena film pendek itu diniatkan untuk ikut ajang Police Movie Festival ke-4 yang digelar oleh Polri, maka sineasnya harus memenuhi selera Polri sebagai user.

Jika sineas punya ide bagus yang mengkritisi kinerja oknum Polri, maka sineas tahu persis ide itu mesti ditenggelamkan ke dasar laut. Sehebat apa pun sineas itu, sebagus apa pun film itu, dijamin nggak bakalan menang. Harus ada tokoh hero. Dan hero itu haruslah polisi. Maka tidak mengherankan kalau tokoh hero dalam film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain“ adalah polisi muda. Dalam film itu dari dialognya malah lebih mirip ustdaz ketimbang polisi. Semuda itu saja sudah bisa jadi hero, gimana yang tua coba?

Polisi yang agak tuaan dikit juga kan pernah menjadi pahlawan di media sosial. Dalam film karya jurnalistik, “86” produksi Net TV nampak polisi menasehati beberapa anggota FPI agar tidak melakukan sweeping geng motor. Padahal anggota FPI hanya beberapa orang saja, barangkali sama jumlahnya dengan polisi. Suasananya pun kondusif. Tidak nampak ada ketegangan, tidak ada masa, tidak ada geng motor. Anggota FPI pun tidak nampak melalukan perlawanan. Suasanya penuh kekeluargaan. Anggota FPI dengan suka rela berbalik arah memenuhi saran pak Polisi. Adegan itu cukup membuat pak Polisi diapresiasi di medsos dan mendapat penghargaan oleh institusinya. Padahal kalau anggota FPInya jail, bisa saja mereka mengambil jalan lain dan melanjutkan sweeping geng motor. Artinya, kesadaran anggota FPI juga punya andil menambah pundi keheroan pak Polisi itu. Tapi karena namanya FPI, tetap saja FPI dibully habis.

Kembali ke film pendek “Kau Adalah Aku yang Lain“. Anto Galon sebagai pembuat film mengaku mendapatkan inspirasi saat ia melintasi jalan yang ditutup karena gelaran pengajian. "Pernah suatu ketika saya lewat di suatu jalan di Jakarta dan tertutup massa pengajian. Terus saya berpikir kira-kira jika yang lewat ambulan gimana ya?" kata pria bernama asli Sugianto ini kepada GATRAnews, Senin (26/6).

Inspirasi itu jomblo. Selanjutnya dia harus dikawinkan dengan memori dalam diri si penerima inspirasi. Dari perkawinan itulah akan lahir ide. Memori itu berupa pengalaman batin, kecerdasan, rasa, sampai pilihan politik. Media sosial yang fitrahnya memang jail, telah membongkar jati diri Anto Galon yang ditenggarai sebagai Ahoker. Maka tidak heran filmnya agak mirip film pendek yang dulu jadi alat kampanye Ahok-Djarot. Pokoknya ada rasa-rasa nyenggol umat Islam, gitu.

Kerja memori seperti ini. Jika sineas adalah Muslim alumi 212, maka ketika melihat ada pegajian menutup jalan dan juga membayangkan jika ada ambulan akan lewat, maka ide yang muncul adalah toleransi jamaah pegajian yang ikhlas memberi jalan ambulan. Jika sineas Muslim dermawan, melihatnya beda lagi. Dia akan merasa bangga dengan jamaah yang haus ilmu agama membeludak sampai ke jalan, lalu dia punya ide agar filmnya bisa membuat para dermawan berpikir akan membantu perluasan masjid agar masjid bisa menampung jamaah hingga tidak lagi menutup jalan.

Pilihan politik Galon dengan user kebetulan nyambung, maka jadilah “Kau Adalah Aku yang Lain“ seperti yang kita saksikan. Sebagai sebuah karya sebenarnya agak mengherankan film itu bisa menang festival. Scenario yang ditulis Galon mirip penyuluhan KB pada masa orde baru. Walhasil , saat dituangkan dalam bahasa gambar sangat vulgar dan mirip sandiwara radio. Membuktikannya gampang saja. Pada bagian ambulan, coba convert film itu ke format MP3. Dengarkan. Kita langsung faham ceritanya. Satu-satunya bahasa gambar dalam film itu adalah nomor antrian di Puskesmas.

Galon memang berusaha mencari alasan agar masuk akal ambulan melewati jalan yang dipenuhi jamaah pengajian. Jembatan rusak, ambulan harus ambil jalan lain. Maunya sih di bagian ini ada ketegangan, tapi karena Galon tidak menyiasati akting pas-pasan para pemerannya dengan visual yang tepat, maka hanya berhenti pada alasan ambulan memutar jalan.

Karena secara umum film ini berisi indroktinasi, walhasil film ini bukan menggugah kesadaran akan makna agung toleransi, malah mempertajam pertentangan dari dua kubu yang secara tradisi memang bersebarangan. Film yang isinya indroktinasi sering kita jumpai pada masa orba.

Kalau saja Galon mauberkompromi pada dirinya sendiri. Kompromi antara dirinya sebagai sineas dengan dirinya sebagai pribadi yang punya pilihan politik, tanpa harus merubah ide dasar film itu, tentu hasilnya tidak sekontroversial seperti sekarang ini. Dan sebagai sebuah karya visual juga bisa dipertanggung jawabkan.

Maaf-maaf kate nih. Bukan ngajarin. Aku mah apa atuh… Misalnya, ambulan dipersilakan lewat oleh jamaah. Pada saat ambulan jalan tersendat, di belakangnya terjadi perdebatan sengit pro kontra beberapa jamaah yang mempersoalkan agama penumpang ambulan itu. Perdebatan itu tiba-tiba terhenti oleh narasi ustdaz yang sedang ceramah mengenai “Kau Adalah Aku yang Lain“. Nampakwajah-wajah yang berpikir memaknai ceramah ustdaz, tanpa harus mengucapkan kata verbal, “Aku sekarang sadar”, dan semacamnya. Memang tidak akan ada tokoh polisi sebagai hero, apa boleh buat.

Galon harus belajar banyak dari sahabatnya, Hanung Bramantio. Walaupun film Hanung juga sering kontrovesial, tapi sebagai sebuah karya bisa dipertanggung jawabkan. [Balya Nur]

28062017



Previous
« Prev Post

Related Posts

6/28/2017 10:50:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar