Iklan

Khutbah Idul Fitri 1438 H Dari Ambon: "Kebangkitan Komunis Bukanlah Hoax"

Posted by Gerakan Rakyat on Minggu, 25 Juni 2017

KHUTBAH IDUL FITHRI 1438H/2017
MESJID DARUNNAIM PERUMNAS WAYAME–AMBON

OLEH: FATHURRAHMAN BIN SALIM


الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ… اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.


Hadirin rahimakumullah...

Pertama, marilah kita bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat-Nya yang tak terhingga kepada kita. Dan marilah kita berupaya semaksimal mungkin untuk menjauhkan diri dari larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-perintah-Nya. Kita tegakkan sholat, dalam keadaan apapun. Karena sholat itu ibarat sebuah bejana, dimana amalan-amalanlain bertempat pada bejana itu. Jika kita tidak memiliki bejana, maka amal apa yang bisa kita kumpulkan? Tentu tidak ada. Semua akan  menjadi sia-sia.

لصَّلاَةُ عِمَادُ الدّيْنِ فَمَنْ اَقَامَهَا فَقَدْ اَقَامَ الدّيْنِ وَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ هَدَمَ الدّيْنِ

Artinya: “Shalat adalah tiang agama. Barang siapa yang menegakkan shalat, maka berarti ia menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat berarti ia merobohkan agama”. (HR. Bukhari Muslim)

Di Hadits lain, dari Mu’adz bin Jabal, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ

Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat”. (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973)

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Yang kedua, marilah kita senantiasa menyampaikan shalawat serta salam kepada Nabiyyullah khatamul anbiya wal mursalin, Rusulullah Muhammadin SAW. Tidak ada satupun dari kita di sini, kecuali harus mendapatkan syafaat beliau kelak di hari kiamat. Rasulullah SAW memuji kita, umat akhir zaman, beliau merindukan kita wahai Kaum Muslimin !!!

Dalam suatu riwayat, Rasulullah SAW membuat iri para sahabat karena beliau tiba-tiba mengatakan tentang saudara-saudara beliau. Sayyidana Abubakar dengan sangat penasaran berkata, “wahai Rasulullah, bukankah kami ini adalah saudara-saudara Engkau?

Beliau bersabda;
Tidak, wahai Abu Bakar. Anda semua adalah sahabat-sahabatku, tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)”, “Bukankah Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah?” kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah SAW menggelengkankepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian Beliau bersabda;

Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasulullah dan mereka sangat mencintaiku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka”.

Pada kesempatan yang lain pula, Rasulullah SAW bercerita tentang kita hari ini dengan sebutan “ikhwan”

Suatu saat, Rasulullah SAW memberikan tebakan bermakna kepada para sahabat, beliau bersabda;

Siapakah yang paling ajaib imannya?” Para sahabat menjawab “Malaikat”. “Bagaimana para malaikat tidak beriman kepada Allah sedangkan mereka sentiasa dekat dengan Allah?” jelas Rasulullah. Para sahabat terdiam seketika. Kemudian mereka berkata “ooh.. kalau begitu Para Nabi”, Rasulullah SAW menyanggah; Bagaimana para nabi tidak beriman, sedangkan wahyu diturunkan kepada mereka”. “ooh… kalau begitu apakah Mungkin kami wahai Rasulullah??” Rasulullah SAW menyela; “Bagaimana kamu tidak beriman sedangkan aku berada di tengah-tengah kalian”.

Akhirnya para sahabat menyerah dan berkata; “Kalau begitu, hanya Allah dan Rasul-Nya saja yang lebih mengetahui”.

Kemudian Rasullah SAW bersabda;

Kalau kamu ingin tahu siapa mereka, mereka ialah umatku yang hidup selepasku. Mereka membaca Al Qur’an dan beriman dengan semua isinya… Berbahagialah orang yang dapat berjumpa dan beriman denganku. Akan tetapi tujuh kali lebih berbahagia orang yang beriman denganku, tetapi tidak pernah berjumpa denganku”, kemudian Rasullah melanjutkan; "Aku sungguh rindu hendak bertemu dengan mereka”. Selanjutnya beliau diam, disusul dengan tangisan para sahabat.

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Hadirin rahimakumullah...

Dan selanjutnya, marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah SWT. Tidak ada sedikitpun keadaan kita yang tidak layak untuk disyukuri. Mulai dari kesehatan baik jasmani maupun rohani kita, dan berbagai karunia lain yang sungguh2 luar biasa. Rasulullah SAW bersabda;

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا

Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya”. (HR. Ibnu Majah: 4141, Shahih Al-Jami’ush Shaghir no. 5918).

Hadirin rahimakumullah...

Hadits itu tentu hanya sebuah gambaran mudah. Itu ungkapan metafora dari baginda yang mulia Rasulullah SAW sebagai kaidah standar bahwa badan sehat, rasa aman serta cukup sandang pangan sudah cukup dianggap memiliki seluruh isi dunia. Lalu bagaimana jika kenyataanya ditambah lagi dengan memiliki kendaraan yang bagus, anak-anak yang sholeh, kehormatan/pangkat, jabatan, kewenangan. Maka Demi Allah, orang seperti itu telah mendapatkan nikmat yang jauh jauh lebih besar dari yang ia kira. Itulah kenapa sehingga Allah SWT mengulangi sampai puluhan kali firmannya dalam satu surat dan beberapa surat lainnya;

فبأيّ الاء ربكما تكذبان
الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Hadirin rahimakumullah...

Lalu pertanyaannya, apa yang Anda/kita miliki saat ini? Adakah di antara kita hari ini yang sedang sakit? Atau sedang dalam ketakutan, atau sedang tidak memiliki beras ataupun sagu, atau suami yang dapat menjadi makanan utama kita? Oleh karena itu, kita harus benar-benar sepenuh hati bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya yang luar biasa itu kepada kita. Terbukti saat ini kita dapat hadir di tempat ini, bersama-sama merayakan Idulfithri tanpa tekanan, tanpa ancaman, tanpa  ketakutan. Bahkan eloknya lagi, pagi hari ini pun cuacanya cerah nian, padahal berlalu di hari-hari lain hujan bertubi-tubi tanpa henti.

Hadirin rahimakumullah...

Kalau boleh mari kita bandingkan dengan kondisi saudara-saudara kita di luar sana yang sangat memilukan. Mereka yang sebelumnya juga seperti kita ini. Bahkan mereka sebelumnya lebih baik daripada kita saat ini. Saudara-saudara kita yang ada di Palestina, Timur Tengah, Syiria, Iraq, Afrika, Myanmar dan di belahan bumi lainnya, sebagian mereka sebelumnya bahkan lebih daripada kita. Namun saat ini, apa yang terjadi? Mereka dilanda kesusahan luar biasa. Ketakutan, kengerian, dan kepanikan yang setiap saat menghantui.

Hadirin rahimakumullah...

Ini bukan menakut-nakuti. Karena bisa saja keadaan  yang pahit diijinkan Allah SWT terjadi sebagai cobaan untuk meningkatkan derajat yang diuji. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda;

 من يرد الله به خيرا يصب منه

Akan tetapi, hal seperti itu demi Allah bisa saja terjadi kepada siapapun. Bahkan kepada kita di sini. Demi Allah… Maha Suci Allah atas segala tuduhan buruk kepada-Nya. Allah Maha Suci dari berbagai bentuk keburukan apapun, Allah tidak pernah menghendaki terjadinya keburukan apapun. Akan tetapi apa masalahnya??? Jika kita melihat salah satu akar dan penyebab, marilah kita perhatikan firman Allah SWT;

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan Sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan". (QS al-Anfal [8]: 24) 25. "dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya". (QS al-Anfal [8]: 25)

Hadirin rahimakumullah...

Sudah umum kita ketahui dari simpulan berbagai redaksi Qur’an dan Hadits, bahwa jika Allah hendak menghukum satu orang di dalam kapal, maka bisa saja Allah SWT akan menenggelamkan kapal itu beserta isinya. Gara-gara hanya satu orang berdosa pada suatu daerah, maka menurut ayat di atas bisa saja adzab Allah SWT akan menimpa orang-orang baik. Inilah hakikinya boleh disebut PEMBAWA SIAL. Dosa dan maksiat itulah yang membawa sial, menyebabkan kerusakan bahkan bagi orang-orang yang baik tidak berdosa. Oleh karena itu, Allah SWT menetapkan kalimatnya dalam ayatnya di surat At Taubah: 24;

Katakanlah: "Jika Ayah-ayah kalian, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri kalian, keluarga kalian, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah LEBIH KAMU CINTAI dari Allah dan RasulNya dan dari BERJIHAD di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik".

Hadirin rahimakumullah...

Itulah kenapa sehingga al’amru bilma’ruf wannahyu ‘anilmunkar/bersikukuh menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran adalah kewajiban setiap Muslim. Pertama dengan tangganya atau kekuatannya, kedua kalau tidak sanggup cukup dengan lisannya dan ketiga kalau tidak bisa juga cukup dengan mengingkari dalam hatinya. Akan tetapi mengingkari dalam hati ini adalah tingkat iman yang paling rendah.

Adalah urusan setiap orang jika ia harus bereaksi atas kemungkaran, semampunya, sebisanya. Jika anda melihat kemungkaran, kemudian tidak tergerak sedikitpun bahkan sekedar di dalam hati , missal karena menganggap itu bukan urusan Anda, maka ketahuilah pada saat itu iman anda sudah PASTI LEPAS!!! Dari diri Anda. Na’udzubillah.

Adalah PASTI, seorang yang beriman harus membela Agamanya. Menolong (membela) Agama Allah, bukan karena Allah perlu pertolongan kita (naudzubillah), namun justeru karena kitalah yang perlu pertolongan Allah.


Adalah PASTI, seorang Muslim… apabila satu saja huruf dari ayat-ayat Allah dinistakan, ia harus tergerak untuk membela. Kalau tidak bisa dengan tindakan, cukup dengan mendoakan orang-orang yang secara nyata membelanya, bukan justeru menjadi corong apalagi pelopor untuk tidak membela. Adalah kesalahan fatal dalam berpikir jika orang misal dengan berkata; “Buat apa bela Islam? Karena Islam tetap mulia tanpa dibela”.

Pertanyaan baliknya, jika isteri Anda, anak-anak anda sebagai orang-orang yang terhormat, kemudian ada pihak lain yang melecehkan mereka, apakah kita akan berkata; “biarlah, isteriku dan anak-anakku orang-orang yang mulia, aku tidak perlu memberlanya”. Ini disebut dayyus, dan dayyus jaminannya hanya kehancuran. Dan kalau sudah seperti itu prinsipnya, maka  tindakan itu dapat menyebabkan iman terlepas dari diri kita.

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Hadirin Rahimakumullah…

Selanjutnya… Semoga Allah mengampuni kita. Kita detik ini hidup di era fitnah kubro. Fitnah terberat dalam sejarah manusia akhir jaman. Dan kitalah umat yang disebut Rasulullah SAW… kalau tadi dengan bangganya kita disebut sebagai saudara beliau, namun di tempat lain beliau mengatakan keadaan kita sebagaimana sabda beliau yang langsung saja artinya;

Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya”. Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan”. Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian”. (HR Abu Dawud 3745)

Tidak ada masalah untuk membanggakan besarnnya jumlah umat Islam, karena Rasulullah SAW pun memang akan membanggakan banyaknya umat beliau kelak di hari kiamat. Namun di sisi lain, Allah SWT dalam menentukan pilihan yang tidak pernah membesar-besarkan apalagi membanggakan banyaknya suatu jumlah.

Allah berfirman;

dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”. (QS. Al An’am: 116)

Sungguh keadaan kita hari ini persis seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Jumlah yang banyak tanpa kualitas. Ditambah lagi dengan rencana jahat yang sangat rapi dan terstruktur, massif, sistematis para kaki tangan Dajjal yang tidak akan pernah mengijinkan Bumi ini aman dan tentram bagi umat manusia. Para antek-antek-antek Dajjalis, atau disebut dengan Anti-Christus, mereka dari yang sekedar menari-nari seraya melontarkan yel-yel anti Islam, hingga para liberalis, sekularis, komunis yang secara sistematis dan massif masuk kedalam lini dan struktur pemerintahan.

Hanya kepada Allah SWT kita meminta pertolongan. Akan tetapi wahai Kaum Muslimin rahimakumullah... Di hari Idul-Fithri ini… Sebagaimana ayat yang telah tersebut di atas, jika kita tidak bersungguh berjihad arti bersungguh-sungguh menegakkan kebenaran berdasarkan petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya, menegakkan sholat, bersama-sama satu visi dalam berusaha meninggikan kalimat Allah, mungkin dengan cara atau manhaj masing-masing, maka ingatlah wahai Kaum Musliminrahimakumullah… Kira-kira apalagi yang bisa kita andalkan untuk meraih ridho dari Allah SWT.

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Semoga Ramadhan yang telah kita jalani itu, membekas dalam jiwa kita untuk kemudian senapas, satu visi, satu misi meninggikan al-Qur’an dan Sunnah di negeri yang kita cintai ini, NKRI. Ya… Al-Qur’an dan Sunnah membumi di NKRI, dan itu sama sekali bukan berarti akan menggantikan falsafah dan dasar Negara NKRI. Demi Allah, umat Islam di Indonesia tidak mungkin berniat menggantikan dasar Negara hanya karena kalimat “membumikan alqur’an dan sunnah di NKRI”. Jika ada yang berpikir seperti itu, itu namanya kesesatan berpikir dan sungguh itu salah paham yang teramat akut. Bahkan faktanya, Pancasila dan NKRI adalah salah satu hadiah terbesar dari perjuangan Umat Islam Bangsa Indonesia, dan tentu tidak mengabaikan peran umat-umat lainnya.

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Hadirin Rahimakumullah…
Stop saling mencela. Stop saling menghina. Stop saling mencaci. Berhentilah dari berbagai hal yang menyebabkan umat ini cakar-cakaran. Bukan saatnya membesar-besarkan masalah sepele yang demi Allah sudah terjadi bahkan sejak masa era-keemasan umat ini. Umat ini bukan seperti kumpulan binatang di kebun binatang yang linglung tak tau arah. Bahkan Umat Islam Bangsa Indonesia sungguh paham betul kemana ia mestinya mengarah, hanya saja memang belum mendapatkan kesempatan terbaik. Oleh karena itu, kesempatan terbaik itu kita mulai lagi dari diri masing-masing, keluarga kita… Perhatikan anak-anak kita, anak-anak yang kita anggap polos, jaga mereka dari jahatnya media sosial dan internet tanpa batas yang jauh lebih berperan mendidik mereka daripada orang tuanya sendiri. Akhirnya mereka tidak lagi mengenal tatakrama, sopan-santun terhadap orang tua.  


Ini masalah besar. Kalau anak-anak kita, unit keluarga terkecil kita masih bermasalah, dan itu terjadi pada banyak keluarga, maka apakah kita tetap tidak percaya jika nantinya misal komunisme kembali berkuasa dan kembali membantai sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena kebangkitan komunis demi Allah bukanlah HOAX. Kebangkitan itu benar-benar keluar dari lidah mereka sendiri yang memproklamirkan diri sebagai orang yang “bangga menjadi anak PKI”. Bicara tentang kebangkitan komunis sama sekali bukan hal yang lebay, berlebihan, dan bukan juga merupakan provokasi apalagi disebut makar.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menegaskan dalam mengomentari sebagian masyarakat yang masih salah paham tentang kebangkitan PKI, bahwa ketetapan MPR No. XXV/1966 tentang pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan pernyataan PKI sebagai organisasi terlarang, serta larangan terhadap paham Marxisme, itu tidak dapat dicabut. Karena MPR saat itu adalah lembaga tertinggi negara, sementara saat ini MPR hanya lembaga tinggi negara.

الله أكبر… الله أكبر …الله أكبر ولله الحمد

Sebagai penutup, marilah di saat yang penuh kemuliaan ini, kita bersama-sama serius memohon doa kepada Allah SWT. Allah berjanji pasti akan mengabulkan doa kita, baik langsung maupun ditunda. 


Ya Allah…

Kami hamba-hamba Engkau yang sangat-sangat lemah. Jasad Kami tidak tahan bahkan hanya dengan serangan flu sederhana, apalagi virus-virus mematikan yang diciptakan oleh manusia-manusia lain yang tidak mengingkan kebaikan pada kami. Ampunilah kami ya Allah, jika bukan karena rahmat dan kasih sayangmu, maka kami ini tidak lebih berharga dari butiran debu. Ya Allah, sampaikanlah shalawat serta salam kami kepada Rasul Engkau Muhammad SAW. Jadikanlah kami semuamnya bagian dari orang-orang mendapatkan syafaatnya. Ya Allah, ampunilah kami, ampunilah dosa-dosa kedua orang tua kami ya Allah, kasihanilah kedua orang tua kami ya Allah, sayangilah ya Allah sebagaimana mereka saaangat menyayangi kami terutama di saat kami masih belum tau apa-apa. Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada masing-masing keluarga kami di era fitnah ini ya Allah, tetapkanlah kami dalam iman ini ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang menjaga dan menegakkan sholat, meskipun kami tidak tau apakah sholat kami sudah sebaik yang Engkau kehendaki. Lindungi anak-anak kami ya Allah, lindungi orang-orang yang kami cintai ya Rahmaan, dari was-was setan dan orang-orang yang sengaja maupun tidak sengaja hendak menyesatkan mereka.

Ya Allah, berkahilah para pemimpin kami ya Allah… berikanlah petunjuk kepada para pemmimpin kami ya Allah, karena di tangan merekalah Engkau memberikan salah satu sebab kebaikan bagi kami akan rejeki kami, nasib kami. Berikanlah petunjuk dan kemudahan Engkau kepada para pemimpin negeri ini ya Allah, kepada presiden kami, para menteri, para gubernur, bupati dan lainnya. Ya Allah… hindarkanlah kami dari fitnah besar jaman ini ya Allah, atau pertemukan kami dengan orang-orang yang dapat mendekatkan kami dengan takwa kepada-Mu. Karena kami ini bukan apa2 ya Allah, kecuali engkau tunjukkan kami bertemu dengan suasana dan sahabat2 sholih. Dan secara khusus, kami memohon kepada Engkau ya Allah, sekiranya ada di antara kami saat ini yang sedang dalam keadaan kurang sehat, maka mohon segera sembuhkanlah ya Allah, mungkin ada banyak yang sedang bermasalah dengan hunbungan sosila, masalah keuangan dan rejeki, mudahkanlah ya Allah, mungkin ada yang sedang bermasalah dengan jodoh, segera pertemukan ya Allah. Tetapkan kami dalam imanmu.

Ya Allah, jadikanlah mesjid ini, mesjid Darunnaim ini menjadi salah satu sumber kebaikan dan keberkahan bagi kami ya Allah. Sehatkanlah para pimpinan dan pengurusnya, imamnya dan jamaah yang semoga semakin hari bertambah dalam memakmurkan mesjid ini. Dan mungkin di antara kami yang tidak bisa saling bertemu, maka berikanlah maklum ya Allah, jadikanlah momen saat ini cukup dan mewakili kunjungan kami ke rumah-rumah tetangga kami, ampuni kami ya Allah.  Aamiin.

Fathurrahman bin Salim (Gus Fatur)

Previous
« Prev Post

Related Posts

6/25/2017 10:33:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar