Iklan

Indonesia Masih Terjajah

Posted by Gerakan Rakyat on Kamis, 27 Oktober 2016

GERAKAN RAKYAT - Kolonialisme yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti “paham tentang penguasaan oleh suatu negara atas daerah atau bangsa lain dengan maksud untuk memperluas negara itu”, umumnya senantiasa diiringi dengan agresi militer dan aneksasi terhadap suatu bangsa dan negara, seperti yang pernah mendera Indonesia di era pra proklamasi 1945. Indonesia luluh-lantak, porak-poranda oleh perang perlawanan terhadap penjajahan bangsa asing hingga tercetusnya proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Kiwari di zaman ultra digital, praktik kolonialisme tak lagi mengawali agresi dan aneksasinya dengan wajah garang tentara dan senapan terkokang siap meletuskan peluru tepat ke jidat kita. Namun, di milinium ketiga ini kolonialisme lebih mengambil bentuk agresinya dengan metodelogis asymmetric warfar (perang asimetris), yakni, “suatu model peperangan yang dikembangkan dari cara berpikir yang tidak lazim, dan di luar aturan peperangan yang berlaku, dengan spektrum perang yang sangat luas dan mencakup aspek-aspek astagatra dimana merupakan paduan antara trigatra (geografi, demografi, dan sumber daya alam) dan pancagatra (ideologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya). Bahwa perang asimetri selalu melibatkan antara dua aktor atau lebih, dengan ciri menonjol dari kekuatan yang tidak seimbang”. [Dewan Riset Nasional, 2008, Suatu Pemikiran tentang Perang Asimetris, Jakarta]

Perang Asimetris atau populer dengan perang tanpa pergerakan militer dalam arti persenjataan perang konvensional (nir-militer), pada permulaan operasinya tak menampakan tindakan kekerasan. Dimensi sasarannya lebih luas (cendrung pada suprastruktur) daripada perang konvensional, sebab serangan pada peperangan ini menohok lini kehidupan. Perang Asimetris saat ini lebih menjadi pilihan bangsa penjajah dalam rangka memperteguh cengkraman kolonialisme-nya di negara atau bangsa yang menjadi target kolonialisme.
Pada penjajahan klasik, pihak penjajah meskipun kuat, invansi dan berperang di negara lain ada limitasinya. Mereka tidak dapat menggunakan sumber daya melebihi tingkat tertentu, karena berperang memerlukan sumber daya seperti prajurit, dana, dan dukungan politik. Tanpa kemenangan cepat, perang bagi negara penjajah menciptakan potensi terjadinya persoalan politik yang dapat menggeser keseimbangan kekuatan yang mengarah pada penyudahan perang. Sedangkan bagi pihak yang terjajah, invasi atau penjajahan oleh negara penjajah menumbuhkan kohesi, meminimalkan kendala dalam menyatukan tekad, dan memaksimalkan kesediaan untuk menanggung bersama biaya yang diperlukan. Negara terjajah tidak harus mempertaruhkan kepentingan untuk bertahan, dan melakukan perang tidak selalu menjadi prioritas utama, karena ada tujuan sosial, politik, dan ekonomi lainnya yang harus diperjuangkan. Hal ini membuat negara terjajah lebih kuat secara mental, sosial dan politik; walau secara militer dan ekonomi lemah. Hal seperti ini terbukti dan teruji pada bangsa Indonesia hingga dapat memproklamasikan kemerdekaanya.

Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryaccudu, Menteri Pertahanan Republik Indonesia memaknai Perang Asimetris sebagai perang non-militer atau smart power, perang murah meriah yeng memiliki daya hancur melebihi kedahsyatan bom atom.

“Asymmetric warfare merupakan perang murah meriah tapi kehancurannya lebih dahsyat dari bom atom. Jika Jakarta di bom atom, daerah-daerah lain tidak terkena tetapi jika dihancurkan menggunakan asymmetric warfare, maka seperti penghancuran sistem di negara ini hancur berpuluh-puluh tahun dan menyeluruh”. [Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryaccudu]
Spektrum sasaran Perang Asimetris meliputi segala aspek kehidupan dengan bidikan utama dari astagatra antara lain yakni; [1] mengintervensi sistem tata kelola suatu negara searah dengan kepentingan kolonialisme yang kapitalistik melalui berbagai kebijakan internasional (politik, budaya, moneter, keamanan dan pertahanan), dimana pihak kolonialisme (penjajah) berada pada posisi pemutus kebijakan, [2] melemahkan idea dan cita generasi suatu bangsa dengan menyuntikkan gaya hidup permisif dan paradigma sekuler bangsa penjajah ke seluruh urat syaraf generasinya hingga membentuk trend-setter kebebasan tanpa nilai dan norma, [3] memboikot pengembangan teknologi strategis suatu bangsa dengan kebijakan veto dan isu pendiskriditan di kawasan regional, [4] menghancurkan kemandirian ketahanan pangan dan energi sebuah bangsa agar menjadi ketergantungan terhadap lembaga atau negara penyedia pangan dan energi yang ditunjuk oleh kartel bisnis dari jejaring kolonialisme, dan [5] mengkooptasi seluruh media analog dan digital yang menjadi sentra telekomunikasi dan informasi suatu bangsa agar tercipta mainstream yang selalu menguntungkan pihak penjajah.

Dalam Perang Asimetris tak dikenal dengan pengumuman perang seperti pada perang konvensional. Perang pada pola ini senyap dan laten. Tetapi, sama halnya dengan Perang Konvensional (simetris), di Perang Asimetris para penjajah juga memanfaatkan orang-orang pongah dan serakah yang ada di negara jajahannya sebagai agen-agen taktis demi memuluskan skenario kolonialismenya, terutama mereka yang ada di pusaran penyelenggara negara. Selain itu para pengusaha pragmatis pun mereka dayagunakan sebagai tentakel kartel bisnis korporasi multi-nasional yang sejatinya merupakan nadi terpenting kolonialisme dalam mendikte suatu bangsa. Pejabat negara dan kolongmerat yang “diasuh” penjajah ini memiliki peran penting yang satu dan lainnya saling padu dalam meloloskan program-program licik kolonialisme. Seperti dalam memutuskan kebijakan pangan dan pengelolaan sumber daya alam yang direkadaya agar perusahaan-perusahaan kaum komprador sebagai anak kandung kolonialisme memiliki akses penuh mengelola dan mengekploitasinya. [al faqir/GR]

Previous
« Prev Post

Related Posts

10/27/2016 06:00:00 PM

0 komentar:

Posting Komentar