Iklan

Indonesia dalam Banyak Versi

Posted by Gerakan Rakyat on Kamis, 18 Agustus 2016

GERAKAN RAKYAT - "Masa depan bangsa Indonesia sepenuhnya tergantung pada susunan pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan dalam arti yang sesungguhnya, karena hanya lembaga seperti itulah yang berkenan bagi rakyat. Untuk mencapainya setiap orang Indonesia harus berjuang sesuai dengan kemampuan dan bakatnya, dengan tenaga dan kekuatan sendiri, tanpa bergantung pada bantuan asing. Setiap upaya memecah kekuatan bangsa Indonesia, dalam bentuk apapun jua, harus ditolak dengan tegas, karena hanya dengan pertalian kukuh antara putra-putri Indonesia itulah yang dapat mencapai tujuan-tujuan bersama.”

Kalimat panjang ini merupakan asas, metode, dan tujuan perjuangan bangsa versi Bung Hatta yang disampaikannya pada Indonesische Vereeniging, 3 Maret 1923, yang kemudian diterbitkan dalam Hindia Poetra. Kedaulatan Rakyat, Kekuatan dan Kemampuan Sendiri, serta Persatuan, adalah tiga prinsip yang diyakininya akan sangat menentukan wajah masa depan bangsa Indonesia. Dan agaknya triumvirat prinsip itulah yang tidak pernah kita lihat sejak tiga dekade lalu, bahkan hingga tahun terakhir ini.

Menjelaskan dan mengilustrasikan wajah Indonesia berarti pula menjelaskan dua perspektif besar, yaitu; krisis yang kompleks sejak medio 1997 dan prognosis melinium ketiga yang kini masih menjulurkan guritanya. Dua perspektif besar itulah yang telah meluluh-lantakkan topeng (bisa juga wajah asli) Indonesia yang telah “dipoles” bertahun-tahun. Sejak itu, tidak satu pun citra -yang selama puluhan tahun ditonjolkan dan terlanjur diyakini- mampu bertahan. Tragisnya, kenyataan transformatif itu tidak cukup kuat menstimulasi perubahan yang signifikan. Dan masa-masa setelah itu membuat kita semua sulit memastikan apakah kita berhadapan dengan wajah asli atau topeng. Kita terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kontradiksi, inkonsistensi, serba paradoks dan ambivalensi. Dengan versi yang lain Parakitri T. Simbolon menyebut ambivalensi ini sebagai “keserba seolah-olahan”, dan Indonesia adalah negeri serba “seolah-olah”.

Indonesia membangun ekonomi dengan fundamental yang seolah-olah kuat; dengan politik yang seolah-olah stabil; dengan pemerintah yang seolah-olah bersih dan kompeten; dengan politikus yang seolah-olah negarawan; dengan tentara yang seolah-olah satria; dengan konglomerat yang seolah-olah panglima industri; dengan kemewahan yang seolah-olah kaya-raya; dengan orang sekolahan yang seolah-olah cendikia; dengan ahli dan aparat hukum yang seolah-olah pendekar keadilan; dan dengan masyarakat pemarah yang seolah-olah ramah-taman. Segalanya tampak salah, ibarat berlian imitasi yang acap lebih kemilau dari pada berlian asli.

Ketika krisis tidak juga mendatangkan perubahan yang sepadan, kebanykan orang mengatakan karena para elit tidak memiliki sense of crisis. Kebangkitan Indonesia membutuhkan kerja keras; dan kerja keras sama sekali tidak identik dengan membuat banyak rapat kabinet zonder kesimpulan dan kerja. Disinilah salah satu persolannya. Sebagian besar entitas politik, sosial dan ekonomi kita telah banyak kehilangan kualitas kerja yang prestatif. Alih-alih misalnya, membuat interpretasi yang progesif dan cerdas atas prognosis milenium ketiga, sebagaimana yang disampaikan oleh Bill Gates dalam Time, 19 April 1999; bahwa jika masyakat dunia pada dekade 1980-an berhadapan dengan persoalan “quality”, lalu di era 1990-an berhadapan dengan persoalan “re-engineering”, maka di era 2000-an kita berhadapan dengan “velocity”.

Sepertinya Bill Gates tidak salah kira. Indonesia paska krisis, bahkan setelah terjadi perubahan politik paska 1998, jangankan dapat menyiapkan diri menghadapi velocity, kala informasi, keputusan dan tindakan – yang menurutnya akan berlangsung “secepat pikiran bergerak” (at the speed of thought); dalam masalah mutu dan perombakan lembaga pun, tidak bisa banyak bicara. Dan untuk bisa memperpanjang nafas, Indonesia harus mampu dalam waktu singkat merapel dua permasalahan itu, yang mestinya sudah selesai dalam satu dekade lampau.

Tapi baiklah – tanpa berpretensi western centris – persoalan “mutu” dan “re-engineering” versi Bill Gates tentu dapat dimutasi dengan istilah lain yang lebih populer, misalnya kualitas tindakan, pembaharuan sistem (including individu dan kelompok), pembaruan kelembagaan, juga – terutama — Sumber Daya Manusia (SDM). Persoalan SDM, merupakan persolan klasik yang dihadapai Indonesia paska kolonialisme Barat dan Jepang – meski bagi sebagian kita, setelah itu, negara dan induk-semang kapitalisnya merupakan neo-imperialis atas masyarakat sipil. Terlepas apakah persolan SDM “seolah-olah” menjadi akar masalah atau wajah asli maslahnya, tapi bila berkaca pada bagaimana negara jiran melepaskan diri dari krisis, maka memperbaiki kualitas SDM menjadi salah satu pintu masuk yang terpenting. Karena mungkinkah mutu SDM kita bisa dikembangkan jika tidak terdapat perubahan struktur ekonomi, sosial dan politik yang sepadan? [al faqir/GR]

Previous
« Prev Post

Related Posts

8/18/2016 09:22:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar