Iklan

Optimalkan Jalur Sutra sebagai Taktik Perang Asimetris

Posted by Gerakan Rakyat on Jumat, 22 Juli 2016

GERAKAN RAKYAT - Jalur Sutera, dalam perspektif geopolitik disebut geopolitical leverage. Ini seperti “Selat Hormuz”-nya Iran, atau Singapore dengan “Selat Malaka”-nya, ataupun “Terusan Suez”-nya Mesir. Jika Pemerintah Indonesia berkehendak sebenarnya memiliki banyak geopolitical leverage pada selat-selat dan alur perairan yang sering dilintasi kapal-kapal asing, tetapi sayangnya tak diberdayakan oleh pemerintah. Bahkan 80% devisa Australia sangat tergantung dari perairan Indonesia.

Republik ini mempunyai 'geopolitic leverage' karena letaknya di antara dua benua dan dua samudra, bahkan bila suatu ketika menggeliat dapat ditingkatkan “peran”-nya menjadi geopolitical weapon (senjata geopolitik), semacam gas weapon Rusia terhadap negara di sekitarnya. Contoh riilnya bahwa 100% gas Eropa Timur bergantung pada Rusia. Dapat dibayangkan bila Beruang Merah menutup jalur pipa ke Eropa. Bisa beku mendadak! Itulah kedahsyatan gas weapon!

Seperti jika Selat Lombok ditutup, atau alur perairan lainnya di Indonesia bagi pelayaran asing dengan alasan kepentingan nasional RI terancam, kemungkinan bisa “terkencing-kencing” Australia dan banyak negara dunia yang tergantung atas perairan dan selat-selat Indonesia.

Betapa dahsyat 'geopolitic leverage' yang dimiliki Indonesia bila diberdayakan secara maksimal. Maka siapapun rezim republik ini bila ia menerapkan hal sama ---sebagaimana model fee yang dikenakan atas pipanisasi Syria atau Rusia--- bagi kapal-kapal asing yang melintas perairan Indonesia, per kontainer/sekian nominal dan harus dibayar memakai rupiah, kemungkinan selain besarnya kontribusi untuk cadangan devisa dan APBN dari sektor fee, juga rupiah tak bakalan melemah karena dicari oleh banyak negara. (baca: Kolonialisme Era Kiwari Melalui Perang Asimetris)


[al faqir, sancang manik maya]

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/22/2016 08:58:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar