Iklan

Melawan Kapitalisme dan Liberalisme

Posted by Gerakan Rakyat on Sabtu, 16 Juli 2016

GERAKAN RAKYAT - Kekuatan kapitalisme global yang menggurita ke seluruh pelosok jagad melalui berbagai korporasi telah meluluhlantakkan kekuatan-kekuatan lokal. Perusahaan-perusahaan multi nasional yang didukung oleh kekuatan korporasi media dan teknologi informasi, membuat negara-negara dunia ketiga tidak memiliki daya kekuatan menolak arus permainan global tersebut.

Dengan kekuatan ekonomi politik negara-negara kapitalis yang tergabung dalam organisasi multi nasional, negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia, dipermainkan dengan program-program recovery ekonomi melalui lembaga keuangan Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF). Kesepakatan World Trade Organization (WTO) yang memberi peran pasar sebagai penentu kehidupan perekonomian, justru mengkerdilkan peran negara dalam melindungi kehidupan ekonomi warganya.

Lemahnya peran negara dalam melindungi segala kebutuhan masyarakat berdampak pada lemahnya tatanan sosial budaya masyarakat. Hal ini berakibat pada terkikisnya tatanan sosial dan budaya masyarakat yang selama ini telah menjadi identitas diri dan kekuatan sosial.

Pada dasarnya masyarakat Indonesia sejak era kolonial telah melakukan penolakan arus kekuatan global yang membawa faham kolonialismenya (baca: penjajahan). Penjajahan dengan misi penguasaan politik dan ekonomi, disadari sebagai bentuk penindasan dan marginalisasi (baca: peminggiran) akan hak-hak sebagai manusia yang bebas. Kekuatan-kekuatan lokal yang digalang oleh para pejuang pendahulu dengan bangunan sosial budaya yang menjadi identitas diri kehidupan masyarakat, mampu menjadi alat untuk menolak penjajah dan globalisasi ketika itu.

Kekuatan global yang sekarang berubah bentuk menjadi wajah menarik, yaitu pola hidup modern yang diwujudkan dengan budaya konsumtif, pergaulan bebas, hedonistik, dan individualis, membawa masyarakat terlena dan tidak terasa bahwa dirinya sedang mengalami penjajahan yang lebih dahsyat.

Jangkauan informasi dan teknologi sampai ke wilayah yang paling dalam dan paling individual mempengaruhi pola hidup manusia sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Manusia tidak paham bahwa dirinya memasuki wilayah tatanan kehidupan yang sama sekali bukan milik dirinya.

Pengalaman masa kolonial dan paska kemerdekaan menunjukkan, bahwa kekuatan nasional dan lokal mampu menjadi alat untuk menggalang kekuatan melawan kapitalisme dan liberalisme. Oleh karena itu di masa sekarang ini, hanya dengan kekuatan lokal warga bangsa mampu menghadang kekuatan neo-kapitalisme dan neo-liberalisme. Kekuatan-kekuatan (baca: potensi) lokal yang selama ini mulai lemah perlu dibangun kembali, sehingga mampu mengimbangi kekuatan global.

Proses yang dapat dilakukan dalam mengokohkan kekuatan lokal tersebut melalui pendidikan kritis. Pendidikan masyarakat yang selama ini telah terbangun di luar mainstream pendidikan formal melalui Pesantren, Taman Baca Masyarakat (TBM), Sanggar Kebudayaan, ataupun komunitas penggiat pendidikan dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Rumah (Home Schooling), ternyata memiliki daya ampuh untuk mengimbangi kekuatan luar.

Oleh sebab itu, perlu dibangun terus kekuatan-kekuatan lokal tersebut dengan pendidikan yang membebaskan dan terorganisir, meskipun tetap membuka diri dengan kemajuan tetapi tidak terpengaruh dengan arus budaya kapitalis yang secara laten memiliki agenda menjajah dan menindas. [al faqir/GR]

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/16/2016 08:45:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar