Iklan

Penjajahan Baru di Balik Neo-Liberalisme

Posted by Gerakan Rakyat on Jumat, 01 Juli 2016

GERAKAN RAKYAT - Neo-liberalisme sejatinya merupakan rangkaian ideologi liberalisme yang berkembang dan mengalami krisis di 1930-an. Inti dari ideologi neo-liberalisme adalah menghilangkan hak istimewa atas kekayaan yang dimiliki oleh suatu negara bagi kepentingan rakyatnya.  Neo-liberalisme dapat dipahami secara sederhana dalam dua pengertian, yakni:

  1. Paham pengaturan masyarakat yang didasarkan pada dominasi homo economicus* atas diri manusia sebagai mahluk sosial.
  2. Neo-liberalisme sebagai dominasi sektor keuangan atas sektor nyata dalam tatanan ekonomi, sosial dan politik.
Inti neo-liberalisme terletak pada dua motivasi, yaitu;
  1. Manusia dilihat hanya sebagai mahluk ekonomi, yang berarti segala tindakan dan hubungan antar sesama manusia, hanyalah dilihat menurut hitungan untung-rugi dalam transaksi ekonomi.
  2. Kekayaan terpusat pada perorangan (pribadi) dan sekelompok orang, tanpa terikat oleh aturan dan norma yang berlaku di masyarakat. Bila seseorang atau sekelompok orang memiliki modal/kekayaan untuk membeli aset negara/nasional, ia akan dapat memilikinya dan mempergunakannya sesuka hati. Walaupun seluruh kekayaan negara/nasional secara normatif wajib dipergunakan untuk masyarakat luas.
Agenda utama neo-liberalisme adalah globalisasi, yakni tatanan dunia baru yang bertumpu pada kekuasaan modal atau penguasaan kekayaan sumber daya. Agenda utama dimaksud ialah; (1) tatanan kekuasaan global yang bertumpu pada praktek bisnis raksasa lintas negara; (2) monopoli perusahaan-perusahaan trans-nasional (multinational corporation, MNCs); dan (3) penularan budaya konsumerisme* dan ideologi yang berbanding terbalik dengan nilai dan norma yang berlaku di Bumi Indonesia.

Dalam globalisasi, praktek perdagangan bisnis tran-nasional didorong dan didukung oleh kesepakatan internasional yang kerap disebut sebagai ‘aturan baru’ dalam kerangka pasar bebas. Kesepakatan tersebut seperti General Agreement on Tariffs and Trade (GATT), World Trade Organisation (WTO), General Agreement on Trade in Services (GATS), Trade Related Intellectual Property Right (TRIPs), Trade Related Invesment Measures (TRIMs), Agreement on Agriculture (AoA) dan Asean Economic Community atau Masyarakat Ekonomi Asean (MEA).

Ideologi konsumerisme didorong oleh kekuasaan bisnis periklanan dengan berbagai bentuk seperti; logo, merek, dan label, yang menanamkan prinsip ‘kenikmatan-gengsi-kemewahan’ pada banyak orang. Sehingga  tiap individu terarahkan kepada budaya, identitas, dan gaya hidup yang disajikan neo-liberalisme. Seperti gaya hidup mengkonsumsi makanan cepat saji ala Amerika, McDonal, KFC, Pizza Hut, A&W, gaya musik ala MTV, dan gaya busana ala Barat serta kurawanya. (baca: Quo Vadis Globalisasi)

Strategi dasar neo-liberalisme adalah penyingkiran segenap rintangan yang menghambat pasar bebas, perlindungan hak milik intelektual, good governance, dan penghapusan subsidi pelayanan publik. Pada prakteknya neo-liberalisme memberikan kebebasan kepada perusahaan swasta dari campur tangan pemerintah. Misalnya, pemerintah tidak ikut campur tangan dalam urusan perburuan, investasi, harga, dan membiarkan mereka memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang mengatur dirinya sendiri. Negara kemudian menyediakan kawasan-kawasan pertumbuhan yang bersifat otonom dan memberikan perlakuan yang khusus atas pajak, bea masuk, dan investasi. Seperti kepada Freeport, Exxon, atau Chevron Gheothermal.

Neo-liberalisme pun memaksa pemerintah untuk melakukan swastanisasi semua perusahaan negara, atau menjual perusahaan negara, seperti penjualan Indosat pada era Presiden Megawati. Karena bagi neo-liberalisme, ideologi "kesejahteraan dan kepemilikan bersama" seperti yang dianut oleh masyarakat tradisional yang menjadi ibu kandung Bangsa Indonesia, dianggap sebagai halang-rintang untuk mencapai agenda utama neo-liberalisme. Sebab itu, mereka berusaha keras menghambat ideologi itu dengan berbagai retorika, dengan menekan pemerintah agar menyerahkan pengelolaan sumberdaya alam pada para pakar yang ditunjuk olehnya. [al faqir]




_____________________________________
*Homo Economicus (makhluk ekonomi) adalah makhluk yang dalam memenuhi kebutuhannya selalu mempertimbangkan antara pengorbanan dan hasil yang akan diperolehnya, sesuai dengan prinsip – prinsip ekonomi. [Eko Sujatmiko, Kamus IPS , Surakarta: Aksara Sinergi Media Cetakan I, 2014 halaman 180]
*Konsumerisme adalah paham atau gaya hidup yang menganggap barang-barang (mewah) sebagai ukuran kebahagiaan, kesenangan, dan sebagainya; gaya hidup yang tidak hemat [KBBI]
*Konsumerisme adalah paham atau ideologi yang menjadikan seseorang atau kelompok melakukan atau menjalankan proses konsumsi atau pemakaian barang-barang hasil produksi secara berlebihan atau tidak sepantasnya secara sadar dan berkelanjutan. Hal tersebut menjadikan manusia menjadi pecandu dari suatu produk, sehingga ketergantungan tersebut tidak dapat atau susah untuk dihilangkan. Sifat konsumtif yang ditimbulkan akan menjadikan penyakit jiwa yang tanpa sadar menjangkit manusia dalam kehidupannya. [Wikipedia]

Previous
« Prev Post

Related Posts

7/01/2016 08:41:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar