Iklan

Kebudayaan Positivisme

Posted by Gerakan Rakyat on Kamis, 24 Maret 2016

GERAKAN RAKYAT - Seluruh rangkaian sistem yang membentuk bingkai kebudayaan barat dewasa ini bermula ketika sains melepaskan diri dari ikatan-ikatan primordialnya (yang suci). Tuhan, yang merupakan Ultimate Reality dikeluarkan dari wilayah sains. Suatu subjek hanya akan diakui validitasnya oleh sains jika subjek tersebut patuh kepada kerangka berpikir logis, dugaan dan pembuktian (nafas generalisir asli kaum modernis yang cenderung congkak). Di luar itu, hanya dianggap mitos belaka yang diciptakan sendiri oleh khayalan manusia akibat ketidak-mampuannya menguasai fenomena-fenomena alam.

Auguste Comte, bapak positivisme, dengan tegas mengatakan bahwa bentuk kebudayaan yang paling tinggi adalah sains. Kredo positivisme ini kemudian diperluas oleh para pemikir dan filosof Barat lainnya. Ilmu-ilmu humaniora dan filsafat yang dinilai punya kans paling besar untuk mengkomunikasikan manusia dengan asal primordial (fitrah)-nya guna mengantarkannya ke derajat kearifan perenial (abadi), pun mengalami reduksi yang sangat mengerikan.

Di tangan Freud, Jung, dan Adler, psikologi tidak lagi mempelajari psyche (jiwa) sebagai spirit atau inner-mind (ruhani) -yang merupakan bagian paling potensial dari eksistensi manusia-melainkan sebagai gejala biologis dan fisiologis semata-mata. Kenapa terjadi psikosis atau symptom neurotis, misalnya.

Dengan psikoanalisis (Freud), psikologi analitis (Jung) atau psikologi individual (Adler) dijawab bahwa itu karena adanya energi psikis yang tidak tersalurkan. Oleh Freud, energi psikis ini disebut libido. Sehihgga secara sederhana, kalau anda tidak mau mengidap psikosis (penyakit kejiwaan) atau symptom neurosis (gejala sakit syaraf), anda boleh memilih ini: bergaul bebas secara heteroseks, homoseks, atau lesbian.

Pernikahan? Jelas tidak menyelesaikan masalah. Pernikahan dibutuhkan sejauh menyangkut kebutuhan administratif saja. Tetapi untuk menyelesaikan gejala psikis tadi jelas tidak mempan. Sebab libido setiap saat bisa mendesak, sementara istri tidak selamanya siap untuk itu, entah karena (maaf) menstruasi, lagi sibuk, atau pulang-kampung misalnya. Satu-satunya jalan ialah dengan meruntuhkan tanggul-tanggul moral yang biasa menghalangi penyaluran libido tersebut secara bebas. Dalam konteks inilah terjadi deharamisasi besar-besaran. Prinsip-prinsip moral Bettrand Russel menganut etika seksual seperti ini.

Di lapangan filsafat juga begitu. Eksistensialisme--filsafat Barat yang disebut-sebut sebagai paling kontemporer- melalui tokoh utamanya, Jean Paul Sartre, dengan lantang menyebut manusia di planet bumi ini sebagai makhluk serba-kebetulan, dan karenanya tidak punya pandangan theologis, nasib sejarahnya tidak punya arah yang jelas. Tujuan hidup satu-satunya adalah memenuhi kepentingan perut dan sekitarnya agar mencapai derajat Uebermensch (istilah ini dari Nietzche), derajat penaklukan dan penguasaan. Untuk itu, peduli syetan dengan orang lain. Bagi Sartre: The other man is hell (orang lain adalah neraka). Jiwa imperialisme, penaklukan, dan penguasaan pasca PD II menemukan kembali semangatnya di sini.

Hal yang sama juga terjadi di bidang seni. Seni hanya ditampilkan sekedar hiburan murahan. Jargonnya yang paling terkenal: Art for the sake of art. Apa saja yang dilakukan di bidang ini selama memberikan hiburan segar kepada masyarakat, maka dengan sendirinya sah untuk diapresiasi sebagai karya seni. Tentu saja tak terkecuali dalam menampilkan goyang erotis atau poto bugil sebagai tuntutan industri hiburan publik.

Sekarang tidak ada lagi satu sisi pun dari kebudayaan barat yang tidak mengalami materialisme dan reduksionisme (penyederhanaan yang absurd) seperti itu. Dan ini pula yang dipaksakan ke seluruh penjuru angin melalui arus globalisasi (baca: Sentralisme Kebudayaan). Semua standarisasi internasional mengacu ke situ, yaitu bahwa suatu produk (termasuk produk politik dan kebudayaan) dikatakan memenuhi standar kalau pas dengan kriteria itu. [al faqir]

Previous
« Prev Post

Related Posts

3/24/2016 07:29:00 AM

0 komentar:

Posting Komentar