Gerakan Rakyat

Gerakan Rakyat
Iklan
thumbnail

BENTENGI ULAMA !

Posted by Gerakan Rakyat on Rabu, 21 Februari 2018




GERAKAN RAKYAT - Serangkaian teror pada Ulama saat ini semakin menggila. Sejumlah Ulama telah teraniaya, bahkan dibunuh dengan biadab di kediamannya.
.
Ada ekstremis yang terindera, dari lingkaran kecil kartel bisnis sejoli pemangku kekuasaan. Aroma ‘state terorism’ begitu menyengat menyeruak, mengiringi kaum komunis yang gegap gempita berakrobat mengusung proposal ‘menangkan Pancasila’.
.
Kaum komunis saat ini sedang fokus giat menguatkan konsolidasi organik aksi massa historisnya, seraya mereduksi fakta coup d'etat 1965.
.
Baik komunis maupun ekstremis itu perlu disikapi melalui kanalisasi pergerakan yang lebih apik dan spesifik. Tidak parsial atau hanya sebagai letupan ghirah semasa.
.
Teror terhadap Ulama, Santri dan civitas akademika Pondok Pesantren, merupakan psy-war dari praktik para ekstremis yang dimaksud. Hal ini menjadi aksis bagi kepentingan memastikan dominasi kekuasaan.
.
Apakah kaum komunis terlibat? Tentu. Tetapi tidak dengan infrastruktur organiknya secara langsung. Teramat beresiko bagi kaum komunis vis a vis Umat Islam Bangsa Indonesia (UIBI) yang belum pupus ingatannya pada penghianatan kaum komunis di 1960-an
.
Faktual, kiwari, kaum komunis lebih memilih mencangkokkan diri ke batang tubuh partai-partai berbasis romansa, seperti yang dipertunjukan oleh penulis buku: aku bangga jadi anak PKI, Ribka Tjiptaning.
.
Sebaran kader kaum komunis yang lain juga masif menginfiltrasi partai-partai oportunis, dan menjadi think-thang di sentra oligarki, selain mengorganisir sumber daya eksekutif, legislatif, dan mempolarisasinya menjadi asupan bagi kepentingan konsolidasi massa di akar rumput.
.
Kaum komunis dijaman now telah memodifikasi tindakan formal organisasinya. Berbanding terbalik ketika dimedio 1948-1965. Mereka di alam milineal ini berkompromi dengan para komprador, bahkan tak sungkan bersama-sama penjahat HAM bersenda gurau di satu meja. Belum lagi akses kebijakan di pusat pemerintahan yang menguat untuk memastikan selamatnya persalinan bayi revolusi komunis ala Mao Tse Tung.
.
Kondisi inilah bagi Kaum Pergerakan Islam tertuntut cekatan menajamkan pengejawantahan mabda luhurnya, hingga dapat menjawab secara kongkrit ancaman domestik di Bumi Pertiwi.
.
Metamorfosis dipihak lawan bersama sekutunya (kaum ekstremis dan komunis) nyaris rampung membangun Persekongkolan Kontra Islam (PKI). Mereka agresif menjulurkan gurita hipokritnya membelit trend-setter kebangsaan dengan jargon Pancasila dan ke-Bhinneka-an. Dan pada pihak Islam, lagi-lagi, di kurung dalam prodeo kusumat berjuluk ‘radikal dan intoleran’, anti Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
.
Subjektifitas pada Kaum Pergerakan Islam segera mesti disirnakan. Karena arena pertarungan mendesak pekik takbir tak sekedar membahana di ruang hampa. Evaluasi jejaring dari hulu hingga hilir dan menginjeksikan kembali elan mujahadah pada Umat Islam Bangsa Indonesia menjadi agenda yang mendesak. Kekosongan di selasar sosial-ekonomi masyarakat urban dan pedesaan juga jangan luput di-shibghah, karena ini merupakan pusaka sejarah yang dianugrahkan kepada kita. (GR)
.
Semoga ALLOH Azza wa Jalla melindungi, memampukan, dan merahmati kita. Aamiin.
Billahi hayaatuna wallohu fii hayaatil mustadl'afiin

#BelaUlama
#BelaIslam

2/21/2018 03:32:00 PM
thumbnail

LAWAN TEROR: Umat, Ulama, dan Pondok Pesantren Harus Sauyunan !

Posted by Gerakan Rakyat on Selasa, 06 Februari 2018


GERAKAN RAKYAT - Tak lagi intimidasi, persekusi dan kriminalisasi, Ulama kiwari dianiaya bahkan dilenyapkan jiwanya. Begitu terindera upaya sistematis yang mendera. Praktik kriminal yang menggejala terasa apik mensamarkan kebinalan berfikir dengan menampilkan kelemahan jiwa para eksekutornya. . Pilihan target kontras tertuju pada Ulama di akar rumput, jauh dari hingar bingar masyarakat urban, tak lagi menggasak Ulama yang populis dan menjadi trend-setter netizen. . Bukan saja Ulama atau Kiyai, bidikan juga menyasar Santri sebagai manifestasi eksistensi regenerasi. Bak test the water, ada yang berharap riak dari teror waktu subuh di Jabar (Jawa Barat). Santri, Ulama, dan civitas Pondok Pesantren terancam oleh kebrutalan nalar dari sekelompok manusia pongah, serakah dan minim marwah. . Hal demikian mengingatkan luka lama pada Umat Islam di jaman old, dimana Umat Islam dan Ulama diculik, diburu dan dibantai secara keji oleh PKI (Partai Komunis Indonesia). Tetapi, baiklah, luka lama itu biarlah pada masanya. Di era now, Umat Islam Jabar patut menelisik dengan cermat gejala sosial yang menggurita di Pajajaran. . Basirah intelektual yang lekat menjadi tradisi Pondok Pesantren kini tengah diuji. Santri dan Kiyai yang membidani Siliwangi lahir ke bumi pertiwi patut segera konsolidasi. Bila perlu, muzakarah Ulama Jabar merupakan agenda mendesak yang elok untuk menyikapi hingar bingar di Tanah Pasundan. . Umat, Ulama, dan Pondok Pesantren harus sauyunan, misal, untuk tajuk muzakarahnya. (GR) #BelaUlama #BelaIslam
2/06/2018 02:40:00 AM
thumbnail

TIGA TUNTUTAN KARTU KUNING MINUS DUA

Posted by Gerakan Rakyat on Minggu, 04 Februari 2018


GERAKAN RAKYAT - Zaadit Taqwa memang bukan politisi. Dia cuma mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah. Kartu kuning berisi tiga tuntutan kartu kuning (Tritukarning ) yang diusungnya, dua diantaranya bukan hal baru, soal gizi buruk suku Asmat, dan soal penjabat gubernur dari Polri, sudah dibikin rame di media dan trend pemberitaannya sudah mulai agak meredup.

Keberaniannya menyampaikan aspirasi dengan cara yang tidak lazim di tengah melempemnya aksi mahasiswa, menuai pujian dan kecaman. Tapi Zaadit berhadapan dengan kekuatan pabrik opini yang dengan mudah mematahkan tuntutan itu dan patahannya dilemparkan ke wajah Zaadit.

Dari tiga tuntutan Zaadit, dipilihlah satu isu yang bisa bikin Zaadit bukan hanya tidak berkutik, tapi juga terjebak dalam perangkap opini itu. Isu gizi buruk suku Asmat dipilih untuk menampar balik Zaadit. Pemerintah bukannya menjawab apa yang telah dilakukan pemerintah untuk menangani gizi buruk suku Asmat, tapi menantang Zaadit untuk datang ke suku Asmat. Tantangan itu diamini oleh bala tentara pemerintah di medsos. Dan yang paling telak, datang dari wilayah yang dibela oleh Zaadit, yang ikutan menampar Zaadit.

Zaadit terjebak. Dalam pernyataannya dia mengaku sebelum pemerintah mengajaknya ke pedalaman suku Asmat, dia dan rekan-rekan memang sudah berniat mendatangi suku Asmat, masih dalam tahap proses pengumpulan dana. Nah, nyambung deh. Soal dana mah pemerintah bakal siap seratus persen.

Ya, bagus-bagus saja sih kalau misalnya Zaadit dan rekan-rekannya akhirnya bisa menjalankan rencana mulia untuk suku Asmat dibiyayai oleh pemerintah. Cuma ya siap-siap saja perjalananya nanti diiringi tertawaan pabrik opini yang sudah menyiapkan narasi paling lembut sampai paling kasar.

Maka mudah ditebak. Sisa dua tuntutan Zaadit tenggelam ke dasar laut. Sejauh mana pengaruh kartu kuning Zaadit terhadap kebijakan pemerintah soal penjabat gubernur dari Polri? Entahlah.

Satu lagi tuntutan Zaadit soal Permenristekdikti tentang Organisasi Mahasiswa (Ormawa) yang menurut Zaadit akan mengancam kebebasan berorganisasi dan gerakan kritis mahasiswa. Karena isu ini tidak langsung menyentuh kehidupan masyarakat dan berpengaruh dalam kubangan politik, pemerintah anteng-anteng saja. Nggak bakal ada yang nanyain selain Zaadit seorang. Ditambah lagi, mahasiswa yang lain juga anteng-anteng saja.

Seperti apa sih Permenristekdikti sampai masuk dalam aksi nekad Zaadit? Opininya bisa dibaca di link ini.

Sebelum membaca link itu, ini sedikit bocorannya. “Karena seperti yang diketahui bahwa dalam Pasal 12 dan Pasal 13 draft Permenristekdikti secara jelas melarang dan mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk menyatakan pendapatnya dalam menyampaikan aspirasi karena seluruh kegiatan mahasiswa harus mendapat persetujuan tertulis Pemimpin Perguruan Tinggi .”

Singkat cerita, pabrik opini berhasil menenggelamkan dua tuntutan Zaadit. Berbeda ketika Ananda Sukarlan juga melakukan aksi nekad seperti seperti Zaadit untuk mempermalukan Gubernur DKI Anies Baswedan. Sukarlan kontan ditenggelamkan gelombang opini dari MCA. Pabrik opini hanya melongo, tidak bisa menolong.

Lalu kemana MCA dalam kasus Zaadit ini? Barangkali karena isu yang dilemparkan Zaadit tidak bersentuhan langsung dengan kepentingan MCA. Atau ada sebab lain. Bisa jadi MCA masih sibuk mengolah isu “sholat Afghanistan,” atau sedang mempersiapkan sesuatu hingga membiarkan Zaadit dipermalukan pabrik opini. Entahlah.

Itulah serunya dunia medsos. Tepuk tangan. (Balya Nur)
2/04/2018 11:54:00 PM
thumbnail

Video: Ironis, di acara ILC TV One, Anton Charliyan keliru menyebutkan anggota Panitia Sembilan

Posted by Gerakan Rakyat on Kamis, 11 Januari 2018

Anton Charliyan: "KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy'arie, itukan Panitia Sembilan"

Karni Ilyas: "Cuma maaf saya koreksi sedikit, Panitia Sembilan itu tidak ada nama Hasyim Asy'arie dan Ahmad Dahlan pak..."


--------------------------------------------------
Anggota Panitia Sembilan: 1. Ir. Soekarno 2. Drs. Mohammad Hatta 3. Mr. Alexander Andries Maramis 4. Abikoesno Tjokrosoejoso 5. Abdoel Kahar Moezakir 6. H. Agus Salim 7. Mr. Achmad Soebardjo 8. Wachid Hasjim 9. Mr. Moehammad Yamin -------------------------------------------------- Sumber Potongan Video: https://www.youtube.com/watch?v=S4TmC... Menit: 18:45 - 18:57 24:43 - 25:01

1/11/2018 07:39:00 AM
thumbnail

THE ROAD TO THE EMPIRE

Posted by Gerakan Rakyat on Minggu, 07 Januari 2018

GERAKAN RAKYAT - The Road To The Empire, adalah sebuah kisah perjuangan heroik penuh hikmah yang terjadi pada peradaban Bangsa Mongolia, keturunan Jengis Khan yang tersohor bengis dan kejam beberapa abad lalu. Novel betikan Sinta Yudisia ini bukanlah sekedar kisah tentang perebutan kekuasaan, konspirasi, dan kudeta yang layaknya terjadi pada sebuah perjalanan kekuasaan para Kaisar. Juga bukan sekedar kisah cinta terhormat yang tersembunyi mewarnai kehidupan tokoh sentralnya. Semuanya terangkum secara apik. Tapi dibalik tema The Road To The Empire tersebut ada sebuah kisah yang menjadi ruh novel ini, yakni tentang perjuangan keimanan yang patut menjadi renungan. Sekaligus pengingat, bahwa sunnah sejarah selalu berulang. Sejak zaman Rasulullah Saw., hingga masa peradaban Mongolia yang terekam dalam novel ini, kembali sejarah menampilkan pengulangan. Jalan mendaki, terjal, fitnah, kesabaran tanpa batas, adalah resiko yang harus dihadapi dalam mempertahankan keimanan. Inilah pesan agung dari The Road To The Empire.

Adalah Tuqluq Timur Khan, seorang Kaisar Mongol yang berkuasa pada saat itu menjalin kisah persahabatan yang monumental dengan Syeikh Jamaluddin, musafir Muslim yang sedang mengembara di daratan Mongol bersama beberapa muridnya. Awalnya, pengembaraan tersebut menyebabkan Kaisar murka. Karena Sang Musafir telah dianggap menggangu waktu berburu Kaisar. Namun tak diduga, ketika Syeikh Jamaluddin ditangkap dan hendak dibunuh oleh prajurit Kaisar, Kaisar Tuqluq Timur Khan dengan kebencian penuh kesal menanyakan permintaan terakhir Syeikh Jamaluddin, segera Syeikh Jamaluddin pun menjawab pertanyaan Kaisar secara arif. Sebuah jawaban yang mencerminkan kesederhanaan serta keyakinan yang teguh. Tersentak hati Kaisar Tuqluq Timur Khan mendengar jawaban yang diutarakan Syeikh Jamaluddin. Alih-alih Syeikh Jamaluddin akan dieksekusi, Kaisar sebalikya menjadi kagum dengan Syeikh Jamaluddin. Karena ternyata jawaban yang dilontarkan Syeikh Jamaluddin berbanding terbalik dengan keyakinan warisan leluhurnya Jengis Khan. Kaisar Tuqluq Timur Khan telah mempercayai bahwa Kaisar Mongolia adalah keturunan dewa yang berhak melebarkan kekuasaan pada bangsa, dan suku lain untuk tunduk dalam sebuah imperium emas Mongolia dengan hanya satu kepemimpinan saja. Karenanya, sebagai titisan dewa ia merasa berhak untuk melakukan apapun untuk mencapai ambisi leluhurnya, meski dengan terus berperang secara keji dan tak kenal belas kasih jika ada yang menghalangi niatnya. Kesederhanaan Syeikh Jamaluddinlah yang akhirnya meruntuhkan seluruh kesombongan Tulquq Khan. Dan pada akhirnya persahabatan sejati terjalin dengan sebuah janji, bahwa suatu saat Mongol akan berdiri sebagai bangsa yang besar, beradab dalam naungan keyakinan dan kesederhanaan sejati, seperti yang diyakini oleh Syeikh Jamaluddin.

Mewanginya persahabatan tersembunyi antara Sang Kaisar dan Sang Musafir, tercium begitu anyir oleh beberapa petinggi kekaisaran, termasuk panglima besar kepercayaan Kaisar Albuqa Khan yang ingin tetap mempertahankan status quo, yakni kekuasaan mutlak dibawah kaki imperium Mongol dengan satu kepemimpinan. Mimpi buruk warisan leluhurnya itu ternyata telah begitu membutakan mata hati pendukung status quo. Sehingga mereka berani melakukan konspirasi jahat untuk melenyapkan Kaisar Tulquq Khan dan Permaisuri Ilkhata, yang bagi mereka terlalu lemah dan sudah tidak pantas memimpin bangsa Mongol yang kuat seperti serigala. Makar berhasil dilaksanakan. Kaisar dan Permaisuri wafat, dibunuh secara keji. Tetapi ketiga putra Kaisar dan Permaisuri tidak ikut dibunuh. Bahkan Pangeran pertama menghilang dari istana. Hilang dalam penyelematan diri atas titah Permaisuri dipenghujung akhir hayatnya. Karena pada Pangeran kesatulah janji yang terikat antara Kaisar Tuqluq Khan dan Syeikh Jamaluddin diwariskan. Tugas Suci yang tidak mudah ini menyebabkan Takudar sebagai putra mahkota pergi meninggalkan kedua adiknya Argun Khan dan Buzun di Istana. Takudar pergi bersama seorang dayang istana kepercayaan Permaisuri, Uchatadara. Mereka pergi ke suatu tempat dimana ahli waris satu-satunya Syeikh Jamaluddin yaitu Rasyiduddin tinggal.

Sejak menghilangnya pangeran kesatu Takudar, secara otomatis Pangeran kedualah Argun Khan yang menempati tahta kekaisaran. Kepemimpinan Argun Khan sangat dipengaruhi oleh Albuqa Khan, sehingga Argun Khan lebih terlihat seperti boneka Sang Panglima. Terlebih, Argun Khan sangat mencintai Urghana putri pertama Panglima yang cantik, cerdas, tinggi ilmu bela dirinya, dan juga memiliki kepribadian bangsawan yang santun. Namun sayang, cinta sang Kaisar bertepuk sebelah tangan, karena ternyata putri Panglima lebih mencintai Pangeran ketiga, Buzun. Pangeran ketiga yang menjabat sebagai kepala bendaharawan Kekaisaran itu, sifat dan karakternya begitu lembut dan welas asih terhadap orang miskin. Begitu jauh berbeda dengan sifat dan karakter Pangeran kedua, Argun Khan.

Kaisar Argun Khan melanjutkan ambisi leluhurnya Jengis Khan merebut Jerusalem di bawah Imperium Mongolia. Bahkan, Kaisar Argun Khan lebih kejam dari leluhurnya Jengis Khan. Meskipun leluhurnya Jengis Khan terkenal bengis dan tanpa ampun pada bangsa lain, tetapi masih berupaya untuk mensejahterakan bangsa Mongol secara keseluruhan. Berbeda dengan Argun Khan, kebijakan pemerintahannya sama sekali tidak berpihak kepada rakyat. Pendapatan negara yang diperoleh dari upeti bangsa-bangsa yang telah ditaklukkannya lebih banyak diprioritaskan untuk keperluan militer semata. Tak mengherankan bila perlengkapan perang dan pasukan yang dimiliki oleh Argun Khan adalah yang terbaik. Para pasukan dilatih dengan disiplin tinggi dan sangat keras pada perguruan-perguruan bela diri terbaik di negeri Mongolia. Tak hanya perlengkapan militer dan fisik, mental pasukan juga di persiapkan sedemikian rupa, hingga pada saat terjun ke medan perang mereka menjadi prajurit-prajurit tangguh yang tidak memiliki belas kasih sedikitpun, bagaikan serigala kelaparan yang memangsa domba tanpa ampun dan hanya menyisakan tulang-belulang saja. Rakyat yang semakin menderita hanya dapat memendam ketidakpuasan tersebut, karena takut akan tebasan pedang para algojo berbadan besar yang siap kapan saja menghujamkan pedang tajamnya atas perintah Kaisar Argun Khan. Kelak situasi ini yang akhirnya menjadi bumerang bagi Argun Khan saat menghadapi kakaknya, sang pangeran ke satu Takudar Khan dalam sebuah peperangan bersejarah.

Jika Argun Khan memiliki perlengkapan senjata dan pasukan yang memadai untuk dipersiapkan pada sebuah perang penaklukkan, sebaliknya Pangeran kesatu Takudar Khan tidak memiliki setengahpun dari apa yang dimiliki oleh adiknya. Di sisi Takudar hanya ada segelintir sahabat kaum Muslimin yang kerap menyemangatinya untuk menghentikan kekejian Argun Khan dengan perlawanan berbalutkan keimanan. Berbekal pendidikan santri di Babusallam tempat Rasyiduddin, Takudar Khan yang menyamar sebagai Baruji dalam pelariannya, mulai mengumpulkan strategi untuk menghentikan kekejaman Argun Khan. Dalam perenungannya pada misi besar dan mulia itu Takudar dihadapkan oleh perang batin yang dahsyat dan menguras seluruh emosinya. Tak dapat dipungkiri dalam darahnya mengalir deras ambisi Mongolia sebagai bangsa penakluk yang tak terkalahkan, berseberangan dengan aqidah yang telah diimaninya, dimana penegakkan keadilan dan perlawanan kepada pemerintahan lalim dan jahil dibawah panji Diinullah adalah sebuah kewajiban. Terbayang olehnya menghadapi kedua saudara kandungnya Argun dan Buzun, bukanlah perkara mudah mengingat mereka pernah tumbuh bersama dalam kedamaian masa kecil yang indah. Tapi tentu saja iman bukanlah hal yang pantas dipertaruhkan hanya karena darah yang sama. Saudara sekalipun, jika telah melewati batas-batas kemanusiaan akan menjadi musuh bagi keimanan yang diyakininya.

Masa-masa penyusunan strategi dan kekuatan bagi Takudar dan pasukan Muslim disekitar daratan Mongolia adalah masa-masa terberat. Pada prosesnya Takudar berhasil mendapatkan kitab sejarah perang milik Jengis Khan yang dicuri oleh Uchatadara. Kitab inilah yang menjadi gambaran bagi Takudar untuk membaca kekuatan lawan dibalik persiapan minimalis yang dimilikinya. Selain kitab tersebut, Takudar dibantu oleh beberapa Syeikh berpengalaman mengkaji strategi-strategi perang milik Rasulullah Saw. dan Sahabat, yang dalam sejarahnya kerap memenangkan perang meski dengan jumlah pasukan dan peralatan perang terbatas, jauh dengan apa yang dimiliki lawannya. Kunci dari rahasia terbesar Rasulullah Saw. dan pasukannya yang tidak didapati pada kitab sejarah perang milik Jengis Khan adalah keimanan, berpegang teguh kepada Diinullah. Bagi Takudar dan pasukannya, kunci rahasia tersebut adalah senjata paling ampuh diantara sekian banyak senjata perang tercanggih yang dimiliki oleh Argun Khan pada saat itu. Islam dengan segala kesempurnaannya telah memberi keuntungan bagi para pemeluknya. Jika mati dalam peperangan maka mereka meraih syahid, dan jika menang kemulianlah yang diraihnya. Oleh karenanya, meskipun tidak lebih dari sepuluh ribu pasukan, mereka tak gentar sedikitpun melawan pasukan Kaisar Argun Khan yang jumlahnya dua puluh kali lipat dari mereka.

Benar saja. Disaat perang antara kedua pasukan tak bisa dihindari lagi, pasukan Muslim yang meski sempat mengacau-balaukan barisan pasukan Argun Khan, secara tiba-tiba berkurang sedikit demi sedikit karena jumlah yang tak sepadan. Tapi tentu kematian mereka bukanlah sesunguhnya kematian. Terbayang pula begitu banyak bidadari-bidadari cantik yang menyambut diatas langit daratan Mongolia, menjemput jiwa-jiwa syahid yang tak pernah tersesat dalam kepulangannya. Pada saat Argun Khan merasa kemenangan berpihak padanya, dengan penuh kesombongan serupa Fir’aun dikarenakan pasukan lawan hanya tersisa Takudar Khan sebagai pemimpin dan beberapa orang sahabat saja, tiba-tiba saja Argun Khan dikagetkan oleh senjata rahasia milik kaum Muslimin bernama keimanan. Situasi yang semula berada dalam genggaman Argun Khan dibalikan seketika oleh Dzat Maha Besar yang tak pernah dikenal dan diyakini oleh Argun Khan selama ini. Sebagian pasukan Argun Khan yang telah lama muak dengan kelalimannya memecah diri dan berbalik memihak pewaris tahta sesungguhnya, Takudar Khan. Dengan harapan keadaan Mongolia akan lebih baik pada pundak Pangeran ke satu itu yang terlihat lebih bijak dan bersahaja. Belum reda sakit hati Argun Khan atas pengkhianatan pasukannya, ia di kejutkan pula oleh bala bantuan pasukan Muslimin yang datangnya dari Mesir untuk mengalahkan pasukan Argun Khan yang sebelumnya telah terpecah belah terlebih dulu. Dengan segala keyakinan yang di miliki Muhammad Takudar Khan, ia telah mampu menundukkan kezaliman yang diciptakan oleh adik kandungnya sendiri. Tunai sudah janji pada Ilahnya, pada kaum Muslimin taklukan Mongol, dan tentu pada Sang Ayah yang sedang tersenyum puas di alam yang terpisah jauh jaraknya dari alam kemenangannya saat itu.

Kisah epik ini, patut menjadi sumber inspirasi dan penyemangat bagi siapapun yang merasa bahwa kejayaan Islam sudah tidak mungkin lagi terjadi di dunia. Perjalanan perjuangan Takudar Khan tergambar jelas pada surat At-Taubah: 25-26. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada rasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan Bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir”. Maka dari itu, perjuangan menegakkan Diinullah tidak akan pernah berakhir dan terhenti meski zaman terus berubah. Keimanan atas Diinullah inilah perjuangan akan terus berlanjut, hingga kejayaan Islam kembali. Dan Aqidah atas Diinullah menjadi kunci rahasia kejayaan itu. 


Oleh: Geika, 10 Juni 2009




-----------------------------------
Judul Buku: The Road To The Empire
Penulis: Sinta Yudisia
Penyunting: Maman S. Mahayana & Taufan E. Prast
Tebal: 586 hlm; 20,5 cm
Terbit: Cetakan 1, Desember 2008
Cetakan 2, Februari 2009
Penerbit: PT. Lingkar Pena Kreativa, 2008
-----------------------------------


1/07/2018 10:14:00 PM
thumbnail

MANTAN ARTIS CILIK, JOSHUA MEMPEROLOK-OLOK ISLAM ?

Posted by Gerakan Rakyat on Sabtu, 06 Januari 2018

GERAKAN RAKYAT - Saat ini stand-up comedy begitu populer di jagad hiburan Indonesia. Saking populernya, tak terbilang para penghibur, baik pesohor yang telah lama melantai di dunia hiburan, maupun pendatang baru, mencari peruntungan nasib melalui stand-up comedy.

Stand-up comedy secara harfiah berarti komedi berdiri, merupakan salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya disebut dengan komika. Lumrahnya, komika membawakan lawakan di atas panggung seorang diri. Dengan cara bermonolog mengenai suatu topik yang diungkap secara jenaka berdasarkan materi yang dibuatnya.

Namun, seiring bermunculan para penghibur baru di panggung stand-up comedy, panggung yang sedianya menjadi ajang menghibur, faktanya telah diciderai oleh aksi komika yang mementaskan lawakan monolognya dengan memperolok-olok agama.

Islam sebagai agama yang sah di Negara Kesatuan Republik Indonesia, telah diperolok-olok Joshua Suherman saat ia sedang beraksi sebagai komika di acara stand-up comedy.

Mantan penyanyi cilik itu begitu kontras dengan sarkasme dalam aksi stand-up comedy-nya. Berikut petikan monolog Joshua Suherman saat sedang menjadi komika di acara stand-up comedy:

"Kenapa Anissa selalu unggul dari pada Cherly (cherrybell), yah sekarang gue nemu jawabannya. Makanya che, Islam," ujar joshua.

Sontak, baik Joshua maupun para penonton, tertawa bersamaan saat itu.

Joshua melanjutkan, "Karena di Indonesia ini ada satu hal yang tidak bisa dikalahkan dengan apapun... mayoritas ! mayoritas !” 




(Berbagai Sumber/GR)
1/06/2018 08:47:00 AM
thumbnail

MEMBURU HOAX !

Posted by Gerakan Rakyat on



GERAKAN RAKYAT - Kiwari Hoax menjadi perbincangan menghangat di masyarakat. Hoax seolah menjelma menjadi “mahluk” yang meresahkan banyak pihak hingga perlu ditangani secara khusus oleh lembaga pemerintahan. Dengan investigasi ala agen intelijen M16 (Dinas Intelijen Rahasia Britania Raya), dan konon kini diperkuat menggunakan teknologi canggih bernilai 190 milyar lebih, Hoax diburu !

Menyoal fenomena Hoax ini, tak sedikit dari lingkungan penjabat negara angkat bicara mengenai Hoax, seperti Anggota Komisi Bidang Informasi DPR RI, Sukamta menjelaskan bahwa, “Berita bohong (hoax) akan hilang jika pemerintah bekerja dengan baik. Oleh karena itu, Sukamta meminta pemerintah tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat. Oleh karena, maraknya berita hoax tersebut mencerminkan kinerja pemerintah yang kurang berperan baik sebagai sumber informasi”. [Lihat: https://www.hidayatullah.com/berita/nasional/read/2017/01/09/109377/anggota-dpr-jika-pemerintah-bekerja-baik-berita-hoax-hilang-sendiri.html]

Maman Imanulhaq yang juga Anggota DPR RI mengutarakan, "Penyebar berita hoax memiliki pandangan bahwa jika kebohongan dilakukan dengan masif maka lama-kelamaan akan dianggap sebagai fakta”. [Lihat: https://www.antaranews.com/berita/607311/anggota-dpr-ajak-masyarakat-aktif-lawan-hoax]

Gaung Hoax begitu menggema merayapi selasar ruang informasi publik, hipotesis ini kiranya yang tengah menggejala. Hoax menyeruak ke permukaan dan telah memakan korban. Hoax mengancam, sedari kepentingan pribadi warga negara sedang martabat pemangku kebijakan negara, begitulah situasi yang terkesankan karena ulah “Si Hoax”.

Wikipedia mencatat bahwa Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya. Senada dengan Wikipedia, Kamus Besar Bahasa Indonesia Online (KBBI Online) menuliskan tiga arti dari Hoax, yakni, Kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi; Berita bohong; Berita bohong, tidak bersumber.

Apa yang dicatatkan oleh Wikipedia perlu terurai dengan pendekatan contoh untuk mudah memahaminya. Misal:

“Presiden RI, Ir. Joko Widodo, meresmikan Kereta Api Bandara Soekarno-Hatta menggunakan busana dengan kemeja batik khas Solo.” Tentunya peryataan dari informasi ini akan disangkal karena tidak benar. Contoh ini memenuhi apa yang dicatatkan oleh Wikipedia.

Atau,

“Terpidana Ahok saat ini sedang mendekam di dalam Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.” Pun ini juga akan dibantah. Contoh informasi ini sesuai dengan maksud Wikipedia.

Seperti Wikipedia, KBBI Online menuliskan arti dari Hoax yang perlu diapresiasi menggunakan contoh dari arti yang dimaksud. Misal:

Arti pertama; kata yang berarti ketidak benaran suatu informasi:
“Jokowi memecat Ribka Tjiptaning penulis buku Aku Bangga Jadi Anak PKI dari kepengurusan PDI Perjuangan”. Kata 'memecat' pada kalimat informasi tersebut tidak benar, dikarenakan Jokowi bukan pemutus kebijakan partai yang dapat memberhentikan Ribka Tjiptaning dari keanggotaan/kader di PDI Perjuangan.

Arti kedua; berita bohong:
“Untuk memenuhi janjinya saat kampanye Pilpres, Jokowi pada tahun 2017 menurunkan harga Tarif Dasar Listrik”. Ini adalah contoh berita bohong.

Arti ketiga; berita bohong, tidak bersumber:
“Akhirnya Jokowi melalui Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan memerintahkan untuk menyampaikan tawaran penjualan mayoritas saham BUMN kepada Pemerintahan China”. Informasi dari berita ini bohong dan tidak bersumber. Adapun sepatutnya perintah dari Jokowi itu tak melalui Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, tetapi harus dengan lembaga negara, seperti Kementerian RI.

Terlepas definisi yang terpapar dari Wikipedia dan KBBI Online, Dosen Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Bandung, Maimon Herawati M.Litt menjelaskan bahwa hoax atau fake news (berita palsu) itu ada di dalam strategi komunikasi perang. “Dalam sisi strategi komunikasi perang, itu ada namanya proxy war, atau disebut propaganda. Bisa disebut juga sebagai psy war atau perang mental. Dan itu dibenarkan dalam strategi perang,” ujarnya kepada Kiblat.net. [Lihat: https://www.kiblat.net/2017/01/18/pakar-komunikasi-hoax-ada-dalam-strategi-komunikasi-perang/]

Lebih lanjut Alumnus Newcastle University ini mengatakan, bahwa hoax atau fake news biasanya dilakukan dengan cara mengeluarkan berita-berita yang bombastis tapi tidak sesuai kenyataan. Hal ini digunakan untuk menghancurkan mental musuh.

Namun, jika dalam kaidah jurnalistik, membuat berita hoax ataupun berita bohong sangat jelas keharamannya. Karena berita harus berdasarkan fakta yang sebenar-benarnya.

Maimon menjelaskan, membuat sebuah berita tidak boleh berdasarkan karangan, atau fakta yang dibuat-buat, kemudian dimunculkan untuk diberitakan. “Bukan kemudian fakta yang dibuat-buat, yang dimunculkan untuk kemudian ditangkap dan diberitakan seakan sebuah kenyataan pahadal tidak,” pungkas Maimon.

Jauh sebelum jaman now, hoax (berita bohong) ternyata sudah dijadikan “senjata” sejak masa revolusi oleh intelijen Belanda. Biasanya cara-cara perang urat syaraf itu efektif membuat situasi kacau di garis belakang pihak Republik. Almarhum Jenderal A.H. Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam hoax yang diciptakan NEFIS karena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. [Lihat: http://historia.id/modern/hoax-masa-revolusi]

“Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam Tentara Nasional Indonesia Bagian I.

Sejarah mengenai Hoax selalu tertaut dengan peradaban manusia. Antara Si Penguasa dengan yang dikuasainya; Antar Negara dengan Negara lainnya, Antar Kelompok dengan Pesaingnya. Tersebut sejumlah Hoax pada jaman old yang membekas hingga kini di daerah Hoax itu menggurita, seperti:


  1. Oplah Berganda buat Hearst. Pada 1889 pengusaha AS William Hearst ingin agar AS mengobarkan perang terhadap Spanyol di Amerika Selatan. Untuk itu ia memanfaatkan surat kabarnya, Morning Journal, buat menyebar kabar bohong dan menyeret opini publik, antara lain tentang serdadu Spanyol yang menelanjangi perempuan AS. Hearst mengintip peluang bisnis. Karena sejak perang berkecamuk, oplah Morning Journal berlipat ganda.
  2. Kebohongan Memicu Perang Dunia. Awal September 1939, Adolf Hitler mengabarkan kepada parlemen Jerman bahwa militer Polandia telah "menembaki tentara Jerman pada pukul 05:45." Ia lalu bersumpah akan membalas dendam. Kebohongan yang memicu Perang Dunia II itu terungkap setelah ketahuan tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan perbatasan Polandia. Karena sejak 1938 Jerman sudah mempersiapkan pendudukan terhadap jirannya itu.
  3. Kampanye Hitam McNamara. Kementerian Pertahanan AS mengabarkan bahwa kapal perang USS Maddox ditembaki kapal Vietnam Utara pada 2 dan 4 Agustus 1964. Insiden di Teluk Tonkin itu mendorong Kongres AS menerbitkan resolusi yang menjadi landasan hukum buat Presiden Lyndon B. Johnson untuk menyerang Vietnam. Tapi tahun 1995 bekas menhan AS, Robert McNamara, mengakui insiden tersebut adalah berita palsu.
  4. Bukti Kosong Powell. Pada 5 Februari 2003 Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell, mengklaim memiliki bukti kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak pada sebuah sidang Dewan Keamanan PBB. Meski tak mendapat mandat PBB, Presiden AS George W. Bush, akhirnya tetap menginvasi Irak buat meruntuhkan rejim Saddam Hussein. Hingga kini senjata biologi dan kimia yang diklaim dimiliki Irak tidak pernah ditemukan. [Lihat: http://www.dw.com/id/6-kabar-hoax-yang-menyulut-perang/g-37072878]


Mencermati sepak terjang Si Hoax yang telah memiliki rekam jejak sedari jaman old sedang jaman now, Hoax cendrung bersifat destruktif. Kepada pihak yang berlawanan darimana Si Hoax itu diluncurkan, dampak kerusakkan dapat menuai korban jiwa tak terperikan.

Akan lain halnya apabila pada situasi perang seperti apa yang disebutkan oleh Maimon, Hoax mendapatkan dirinya “dihalalkan” sebagai psy war atau perang mental untuk melemahkan lawan. Apakah ini senafas dengan yang diungkapkan oleh Mayjen TNI Purn Djoko Setiadi soal “hoax membangun”?

Ah, Hoax apapun bentuk dan embel-embelnya tetaplah Hoax, termasuk pencitraan yang berbanding terbalik dengan kenyataan sejatinya adalah varian dari Hoax. Dusta. Tipu daya. Muslihat. Pepatah mengatakan, "untuk menutupi kebohongan dengan kebohongan lagi", begitu seterusnya. (Berbagai Sumber/GR)

1/06/2018 01:20:00 AM
thumbnail

Penistaan Hukum oleh Terpidana Ahok ?!

Posted by Gerakan Rakyat on Kamis, 04 Januari 2018


GERAKAN RAKYAT - Apakah seorang narapidana boleh ditempatkan di Rutan? Sesuai aturan, karena terbatasnya jumlah Rutan di Indonesia, yang boleh dilakukan sebenarnya hanyalah menjadikan Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) sebagai Rutan (Rumah Tahanan), dan bukan sebaliknya.
Jika ada kondisi tertentu yang mengharuskan seorang terpidana perlu dipindahkan dari sebuah Lapas, yang bersangkutan hanya bisa dipindahkan dari satu Lapas ke Lapas lainnya, dan bukan dipindah dari Lapas ke Rutan.

"Rumah Tahanan Negara selanjutnya disebut RUTAN adalah tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di sidang pengadilan ".

Sementaramengenai pengertian LAPAS diatur pada Pasal 1 angka 3 UU No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan yang berbunyi:

"Lembaga Pemasyarakatan yang selanjutnya disebut LAPAS adalah tempat untuk melakukan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan ".

RUTAN merupakan tempat menahan tersangka atau terdakwa untuk sementara waktu sebelum keluarnya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. SementaraLAPAS merupakan tempat untuk melakukan pembinaan Narapidana dan Anak Didik Pemasyarakatan.

Berdasarkan penjelasan singkat di atas, seorang narapidana harus ditempatkan di dalam LAPASuntuk mendapatkan pembinaan, tambahan pada kemampuan karena fungsi RUTAN di indonesia fungsi LAPAS berubah menjadi RUTAN . Beberapa LAPAS yang seharusnya menjadi tempat membina narapidana ini digunakan untuk menahan tersangka atau terdakwa. Perubahan fungsi inipada Surat Keputusan Menteri Kehakiman No. M.04.UM.01.06 Tahun 1983 tentang Penetapan Lembaga Pemasyarakatan Tertentu sebagai Rumah Tahanan Negara . Pada tanggal Surat Keputusan Menteri Kehakiman ini daftar pagu LAPAS yang juga bisa menjadi RUTAN.

Tapi kenapa aturan tersebut tak berlaku untuk terpidana Saudara Basuki?! Inilah salah satu noda hitam dalam penegakkan hukum sepanjang tahun 2017. (Berbagai Sumber/GR)


Referensi: http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt50a080389dc32/apakah-narapidana-boleh-ditempatkan-di-rutan
1/04/2018 09:25:00 PM
thumbnail

Politik Itu Wangi

Posted by Gerakan Rakyat on Rabu, 03 Januari 2018

GERAKAN RAKYAT - Hari ini happy, sebab perjalanan Cibiru - BSD ditempuh dalam waktu 3 jam 15 menit. Normal lah itu, hadiah dari Allah, setelah Jum’at memerlukan waktu 14 jam dari BSD untuk mencapai Cibiru (waktu itu sy kira sdh mendarat di Amsterdam Schipol, eh taunya mendarat di pintu keluar Buah Batu).

Saya buka2 medsos, sebab satu rumah istirahat. Saya baca obrolan di salah satu WAG, topiknya tentang orang2 yang (merasa) pintar yang cenderung anti politik dan MELARANG tiap anggota WAG nya bicara tentang politik. Jadi isi obrolan WAG itu cuma ucapan selamat ulang tahun n posting kuliner, konon isinya grup orang2 pinter, yang TEREDUKASI dengan baik dari universitas ternama. Saya ketawa bacanya. Saya jg punya grup begitu. Tiap ada yg ngomong politik, pasti akan muncul moron2 yang men-colek2 admin utk memberi peringatan pada yang posting, dan itu ber-ulang2, sampai2 ada ancaman klu masih posting juga akan dikeluarkan dari grup 😄 😄 😄. Pd grup2 begini, saya pasti tak pernah komen. Soalnya saya tidak merayakan ultah dan tidak suka kuliner juga, jadi males saya baca posting2 di tempat seperti itu kan?

Pagi tadi, my bontot boy tilawah setelah jadi imam sholat subuh. Ia membaca surat Al Qasas. Isinya tentang perjuangan Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS melawan tirani kaisar imperium Mesir, Fir’aun, sang MUSUH ALLAH. Di awal, Allah mengatakan bahwa FIR’AUN adalah PENGUASA YANG JAHAT, karena ia MENGADU DOMBA RAKYATNYA untuk memperkokoh kekuasaannya.

Selanjutnya diceritakan bagaimana Nabi Musa AS, pria cadel yang sejak bayi diasuh oleh Fir’aun, melawan “bapak angkat”nya sendiri. Dan ini kisah yang sangat saya sukai. Seorang pria cadel yang tak jarang ketakutan, berhasil menghabisi kekuasaan seorang kaisar superpower, yg memiliki bala tentara yang super terlatih dan persenjataan perang yang lengkap. Dan bukan main senjata yang digunakan Musa AS untuk melawan segala kedigdayaan Fir’aun, apa itu?

Yaitu: kekuatan MULUT!!! Door to door menawarkan konsep ketauhidan, memiliki informan yang bekerja di internal Fir’aun (salah seorg panglima perang Fir’aun membelot dan memihak pada Nabi Musa), menggunakan jasa juru bicara (Nabi Harun menjadi juru bicara Nabi Musa, sebab bicaranya tidak jelas, waktu bayi nabi Musa pernah makan bara api yang ditawarkan Fir’aun, sehingga lidahnya terbakar dan bicaranya menjadi cadel). Apa sebetulnya yg dilakukan Nabi Musa di masa pemerintahan Fir’aun? Nabi Musa BERPOLITIK!

Melawan seorang kaisar, dengan lobby mulai dari tingkat rakyat jelata sampai panglima perang, menghadirkan penyusup, itu semua politik kan? Dan sepemahaman saya, hampir semua kisah Nabi2 adalah kisah perlawanan melawan tirani (kecuali Nabi Adam AS, mohon koreksi bila keliru). Dan apa kegiatan para tiran? Mereka MENJAUHKAN MANUSIA DARI PEMURNIAN PENGHAMBAAN PADA ALLAH.

Tiran di jaman Ibrahim AS memaksa rakyatnya menyembah patung2. Tiran di masa Luth AS memaksa rakyatnya menerima kelakuan LGBT bahkan menghukum rakyat yg menentang LGBT. Tiran di masa Nabi Shaleh memaksa rakyatnya bertransaksi dengan riba dan mereka gemar mengurangi timbangan, dst dst nya.

Dan tiran yang paling “menggemaskan” adalah Fir’aun, yang secara eksplisit memaksa rakyatnya utk MENYEMBAHNYA, menjadikan Fir’aun mendapat gelar “musuh-KU” dari Allah SWT. Kesimpulannya, NABI2 BERPOLITIK.

Lalu kenapa kita jadi anti? Kita yakin politik menjauhkan kita dari kekhusyukan sholat, masssaaaa'?

Rasulullah SAW itu politisi handal sekaligus panglima perang yg memiliki ketangkasan yang handal serta strategi perang yang jitu. Perjanjian Hudaibiyah merupakan bukti Rasulullah SAW adalah politisi ulung. Perang 12 kali beliau adalah bukti bahwa beliau adalah seorang panglima perang yang handal. Jadi kenapa masih anti pada politik?

Indonesia ini dimerdekakan oleh perjuangan ulama, mereka berpolitik!! Jadi kenapa masih anti pada politik?

Marilah kita jangan mau terbawa propaganda antek2 dajjal yang mengatakan bahwa politik adalah dunia yang kotor. Dia mengatakan itu untuk mengelabui kita, supaya kita lengah. Mengira kita akan aman2 saja dan cukup hanya dengan sholat, mengaji, dan umroh!!!

No!! Agama Islam bukan agama ritual belaka, keIslaman seseorang tidak dilihat dari keistiqamahannya dalam melakukan ritual. Islam itu agama sosial. Kesalihan seseorang diukur dari seberapa banyak waktunya dihabiskan UTK BERAMAR MA’RUF NAHI MUNKAR.

Ingat kisah seorang saudagar yang sedang sakratul maut, saat malaikat Rakib dan Atid memperlihatkan catatan amalnya, timbangannya jatuh ke kiri, dosanya lebih banyak. Namun akhirnya, malaikat Rakib dan Atid menemukan satu catatan kebaikan, yang akhirnya membuat semua dosanya terhapus dan timbangan kebaikannya menjadi sangat berat. Apa amal itu? Tangisan seorang ibu yang berterima kasih pada nya karena dia berikan makanan (dia sendiri belum makan, lalu dia tawarkan pada ibu dan anak2nya yang lapar).

Bagaimana kita bisa berharap lepas dari riba kalau kita tidak berpolitik? Bagaimana kita bisa berharap syariah Islam dijalankan bagi kita pemeluk agama Islam klu kita anti pada politik dan menganggap politik adalah sesuatu yang berbau busuk dan menyengat?

Sekali lagi, jangan pernah terbawa propaganda antek2 dajjal yang mencoba mengubah mindset kita. Ingat, Islam mengajarkan kita untuk hablum minannaas dan hablum minallaah... ritual HARUS diaplikasikan dalsm kegiatan sosial (amar ma’ruf nahi munkar).

Sekian tahun umat Islam di negeri ini dijauhkan dari politik, mulai dari cara halus melalui ceramah2 bapak2 kyai, sampai cara kasar MEMPERTONTONKAN politisi muslim yang (terduga) korupsi seolah2 tidak ada yang non muslim yang korupsi, dan mereka SELALU MENGKAIT2KAN dengan ajaran Islam. Tapi kalau politisi non muslim yang korupsi, mereka buru2 menutup berita, dan kalau ada yang coba2 mengkaitkan dengan agama, mereka buru2 berteriak “GA ADA HUBUNGANNYA DENGAN AGAMA!”

Ayo saudaraku di jalan Allah, jangan anti pada politik. Justru, 87% umat Islam ini harus berpolitik. Kita harus mampu menentukan kemana rakyat ini harus dibawa. Kita TAK BOLEH MENYERAH PADA TIRAN.

Sebagaimana para Nabi berjuang melawan tiran, kita pun kini beramai2 melawan tiran yang hendak menjauhkan kita dari Allah.

Politik bukan tabu, politik itu suatu komponen kehidupan, kalau dia tak ada, hidup menjadi tak jelas mau bagaimana.

Jangan ragu utk bicara soal politik, jangan minder juga, sebagaimana kita tak cerdas, demikian juga para politisi yang saat ini ada, jadi kita punya wewenang informal utk bicara kan?

Semoga kita ke depan lebih aware dan lebih melek politik. Cukuplah tiran2 berkuasa, mari kita ciptakan suasana kondusif sehingg muncul pemimpin yang shiddiq, amanah, tabligh, fathanah.

Ingat, POLITIK ITU WANGI !



Sumber: https://www.facebook.com/nurhidayat.assegaf.7/posts/339955249816780


1/03/2018 05:56:00 PM
thumbnail

SOMAD, DA'I MILLENIAL

Posted by Gerakan Rakyat on Selasa, 02 Januari 2018


GERAKAN RAKYAT - Tahun 2017 adalah tahunnya Ustad Abdul Somad. Siapa yang tak mengenal pria ceking, pesek, hitam, dan rambut yang telat dipotong tersebut. Dia tak dilontarkan dari Jakarta seperti para seleb, dai, dan tokoh-tokoh lainnya, baik dalam arti fisik maupun dalam arti invisible hand para oligarkis pengendali Indonesia. Dia munyeruak dari Pekanbaru, Riau, dengan usahanya sendiri. Dia tak diorbitkan media-media massa Jakarta. Dia besar dengan memanfaatkan kanal Youtube. Ya, Somad memanfaatkan media sosial. Gratis. Tak butuh siapapun. Cukup bermodalkan handphone atau gadget yang lainnya, plus “paket pulsa” — frasa yang sering ia ucapkan dalam ceramah-ceramahnya.

Somad menjadi contoh antitesa bahwa Jakarta bukanlah segalanya. Riau bukanlah wilayah yang banyak melahirkan tokoh. Letaknya terlalu jauh dari pusat-pusat dinamika di kawasan Sumatra seperti Aceh, Medan, Padang, Palembang. Namun jangan salah dari Riau kita mengenal Raja Ali Haji, penyair dan cendekiawan di masa sebelum Indonesia. Mungkin kita masih ingat dengan Gurindam Dua Belas, karya beliau, yang saat di sekolah dasar pernah diajarkan kepada kita. Itu pun lebih sering disebut judulnya saja, bukan isinya. Atau kita pernah mengenal Syarwan Hamid, juru penerang TNI yang paling baik dalam sejarah militer Indonesia. Selebihnya mungkin sebagian dari kita pernah mengenal tokoh Tabrani Rab atau Tenas Effendy. Yang satu tokoh politik yang moncer dengan teriakan Riau Merdeka, sedangkan yang satunya adalah pakar kemelayuan.

Kini, Riau memiliki Somad. Dia dosen di Fakultas Ushuludin UIN Sultan Syarif Kasim (Suska), Pekanbaru. Namun ia tak lahir di Riau. Dia lahir di Silo Lama, Asahan, Sumatra Utara, pada 18 Mei 1977. Pendidikan dasarnya di SD Al Washliyah Medan, demikian pula pendidikan menengah pertamanya di MTs Mu’allimin Al Washliyah Medan. Setelah itu ia mesantren di Darul Arafah, Deli Serdang, Sumatra Utara. Tapi setahun kemudian hijrah ke Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Indragiri Hulu, Riau. Kemudian kuliah di UIN Suska selama dua tahun. Pada 1998, ia meraih beasiswa untuk kuliah di Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Dalam tiga tahun 10 bulan ia menamatkan S1 dengan meraih gelar Lc. Pada 2004 ia kembali meraih beasiswa untuk kuliah S2 di Institut Dar al-Hadits al-Hasaniyah, Maroko. Semua pendidikan tingginya ia selesaikan dengan cepat. Itu menunjukkan kecerdasannya, sekaligus kesungguhannya. Menilik penguasaannya terhadap kitab-kitab klasik, kontemporer, maupun sejarah memperlihatkan bahwa Somad tak melulu kuliah. Ia juga rajin mengikuti majelis-majelis ilmu yang diampu para syekh untuk belajar kitab-kitab atau ilmu-ilmu tertentu — sebuah tradisi keilmuan yang hanya ada di dunia Arab.

Somad mulai menggemari media sosial sejak di Maroko. Ia memiliki blog pribadi dan kanal Youtube pribadi. Dunia akademisnya pun ia geluti dengan baik. Ia menerjemahkan banyak buku agama dan juga menulis buku-buku agama. Ia memang pakar hadis. Sebagai dosen tentu ia berada dalam lingkungan yang baik dalam mengembangkan wawasan. Tak heran jika ia juga fasih berbicara tentang politik dan sejarah. Kecerdasan dan kesungguhannya terlihat dari kemampuan otaknya dalam mengutip isi kitab, bahkan silsilah kitab, orang, dan rantai guru-murid. Perhatiannya yang luas juga ia perlihatkan ketika mampu menjelaskan para ulama Indonesia dan kutipan-kutipan pendapatnya serta concern keilmuannya. Ia bisa menjelaskan perbedaan KH Maimun Zubair dengan Gus Mus atau lainnya.

Ya, salah satu keunggulan Somad dibandingkan dengan dai-dai lainnya adalah pada kemampuannya merujuk kitab dan dalil dengan kutipan yang panjang, bahkan latar belakangnya. Ini jika menyangkut data atau pendapat tertentu. Langgam Melayu memang enak di telinga dan nyaman di hati. Apalagi jika ditingkahi dengan pantun dan syair. Ini hanya bisa dimiliki oleh orang Riau, apalagi Bahasa Indonesia memang bersumber dari Melayu Riau. Ini pula yang dulu menjadi keunggulan Syarwan Hamid saat menjadi juru bicara tentara. Ada rima dan metafora.

Suara Somad yang merdu dan kefasihannya dalam Bahasa Arab membuat ceramahnya menjadi pertunjukan sendiri saat ia mendendangkan syair atau membacakan ayat-ayat Alquran. Namun ada dua hal yang membuat ceramahnya menjadi segar. Pertama, humornya. Ceramahnya yang panjang itu diselingi oleh banyak humor. Tak butuh ia membuat cerita panjang untuk menciptakan canda yang menyegarkan. Tapi cukup dengan satu kalimat, saat mengomentari materi ceramahnya sendiri. Ini membutuhkan kecerdasan tersendiri. Butuh selera humor dan kecepatan berpikir. Selingan humor ini sangat dibutuhkan di sosmed. Bayangkan orang menonton Youtube di layar hp yang kecil, kualitas gambar yang tak prima, dan sering terkena buffer akibat sinyal yang buruk maka betapa membosankannya mendengarkan orang bicara panjang di Youtube. Karena sebetulnya tiga menit pun sudah cukup panjang. Tapi publik bisa satu jam mendengarkan Somad berceramah. Sehingga humor-humor itu sudah menjadi karakter berdakwah di era milenial. Humor memang sudah menjadi kelaziman dalam pidato yang panjang, termasuk dakwah di kampung-kampung, tapi intensitasnya tak serapat Somad. Ini yang membuat dai-dai sosmed lainnya tak semoncer Somad. Somad telah menjadi anak kandung dai era milenial.

Kedua, sikapnya yang independen. Salah satu keunggulan orang yang dibesarkan oleh sosial media adalah sikap independen. Hal itu bisa dilihat dari dunia sosmed yang riuh. Ini karena orang-orang itu bebas menulis atau berbicara apa saja. Bahkan orang yang pendiam pun bisa menjadi rame jika muncul di sosmed. Ini karena sifat sosmed yang impersonal dan independen. Hal itu misalnya berbeda dengan dai yang dibesarkan oleh televisi atau majelis pengajian. Televisi memiliki banyak aturan, apalagi di tengah kontrol opini yang ketat maka garis politik pemilik dan segmentasi pasar akan mengarahkan si dai untuk bergaya bagaimana dan harus bicara apa saja. Demikian pula orang yang dibesarkan di majelis pengajian. Ia akan terikat pada selera tertentu. Ini pula yang bisa dijelaskan mengapa Somad kena gangguan di Bali dan di PLN. Majelis itu memiliki keseimbangan yang terbatas dan terikat. Berbeda dengan dunia sosmed yang bebas, asalkan tidak memfitnah dan melanggar hukum.

Somad, sebagai orang yang dibesarkan di sosmed, begitu lepas saat berbicara. Bahkan ada kalanya kelebihan, seperti saat berbicara “hidung pesek” terhadap Rina Nose – aih rupanya nose alias hidung memang menjadi brand tersendiri bagi Rina. Salah satu ciri ulama Sumatra adalah tak ada tabu berbicara politik. Hal itu bisa dilihat pada ulama-ulama di Minang dan Aceh. Ini karena di Sumatra ada pepatah “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah”. Sehingga sejarah ulama dan kekuasaan sudah menyatu dalam kesultanan-kesultanan di Sumatra. Varian ini tentu berbeda dengan sejarah dan tradisi di Jawa, di mana ulama tak ada di jantung kekuasaan. Ulama di keraton-keraton Jawa – kecuali Cirebon, Banten, Demak, dan Pajang yang bukan mainstream di peradaban Jawa – berada di pinggiran kekuasaan, bahkan menjadi pelegitimasi sultan belaka. Karena itu tradisi ulama di Jawa adalah melayani kekuasaan.

Somad tak ada dalam tradisi seperti di Jawa itu. Sehingga ia berbicara lepas saja saat berbicara politik dan kekuasaan. Di tengah situasi politik saat ini – terjadi ketegangan politik antara santri dan kekuasaan – maka ceramah Somad menjadi kontekstual. Ini mengingatkan kita pada ceramah Zainuddin MZ, dai Betawi. Betawi berada dalam tradisi Banten, karena itu Zainuddin sangat fasih berbicara politik – hal ini bisa dijejaki pada ulama besar Betawi KH Abdullah Syafii. Zainuddin sendiri mengaku gaya ceramahnya mengikuti Buya Hamka yang logis, diselingi humor mengikuti KH Idham Chalid, dan bergaya orator seperti Bung Karno. Namun Zainuddin adalah tipikal dai yang dibesarkan podium dan kehidupan politik yang represif. Karena itu Zainuddin memompakan perlawanan. Tak heran jika suatu masa ia berkolaborasi dengan penyanyi Iwan Fals dan penyair WS Rendra – keduanya mewakili figur cadas.

Setelah Zainuddin kita mengenal Aa Gym. Aa Gym besar dalam tradisi dakwah di majelis taklim. Gayanya akrab dan keseharian. Ia juga mewarisi varian Sunda yang lembut dan ngepop. Saat itu awal era reformasi. Indonesia dalam kondisi zigzag. Butuh dai yang bisa menjadi penenang dan pemberi motivasi dalam kehidupan yang tak menentu. Derai lelehan air mata sering menghiasi jamaahnya setiap mendengarkan ceramah Aa Gym. Setiap masa memang memiliki tantangannya tersendiri. Dan Somad mewariskan dakwah era milenial: egaliter, independen, bebas, berisi, dan menghibur. Sekarang eranya berekspresi sambil tertawa dan dalam keimanan. Itulah Somad, dai era milenial. Jadi, tahun 2018 ini tak perlu ada yang baper.

02 January, 2018

Oleh: David C McLulloh
Sumber: https://www.facebook.com/trahcakra/posts/1561566640600547
1/02/2018 11:39:00 PM
thumbnail

MUSLIM PASUNDAN

Posted by Gerakan Rakyat on Minggu, 31 Desember 2017


GERAKAN RAKYAT - Meng-Islam-nya (karuhun) Sunda itu, lebih ibarat "keris manjing warangka", pucuk dicinta ulam tiba, antara keyakinan TOKID [TAUHID] PURBA "titilar Aki Purba" Eudeum (AS) ke dalam kesempurnaan nubuwwat dan syare'at ke-Muhammad-an yang dibawa para da'i penyebar Islam meski beserta segala sisipan identitas kulturalnya. Sunda mengIslam, bukan semata-mata karna alasan-alasan; praktis, ekonomis, atau politis. Semasa pra-Islam, Sunda tak pernah menjadi Hindu-Budha kecuali sekedar elitis-minoritas saja. Tak ada candi-candi ditemukan di Tatar Pasundan, kecuali candi mini Cangkoang di Garut dan satu dua lainnya.

Secara KULTURAL, Muslim Pasundan, mestinya, tetap mandiri pada identitas kebudayaan (dalam dialektisnya) yang alami. Meski pernah dengan massif "di-invasi di-jawanisasi" oleh kerajaan Mataram di masa silam. Meski secara eskalatif "di-westernisasi" oleh globalisme serta di timur-tengahkan oleh ormas-ormas Islam imporan, sekarang.

PUI, PERSIS dan MATHLAUL ANWAR, adalah ormas Islam yang lahir di sini, sayangnya menjadi pribumi yang me-marginal, tergerus arus besar "pen-jawa tengah-an" oleh Muhammadiyyah, "pen-jawatimur-an" oleh NU.

Dan, di-JAWA (Barat)-kan oleh kekuasaan.

Di pulau SUMATERA, tak ada Etnis Sumatera, nomenklatur nama provinsi berdasar pembagian wilayah menjadi SUMUT, SUMSEL, SUMBAR sama sekali tak bermasalah juga Kalimantan dan Sulawesi. Tetapi JAWA Beda. Selain nama pulau, JAWA juga adalah nama IDENTITAS ETNIS.

JAWA TIMUR dan JAWA TENGAH, sangat relevan. Letaknya di pulau Jawa bagian timur dan tengah, penghuninya SUKU JAWA. JAWA BARAT? ini persoalan. Betul ia adalah bagian barat dari pulau Jawa, tetapi sungguh penghuninya BUKAN SUKU JAWA. Ia SUNDA! Berbudaya dan berbahasa SUNDA!

Pen-JAWA-an terhadap SUNDA, sebenarnya, adalah sebuah peminggiran - untuk tidak mengatakannya penghilangan- IDENTITAS KULTURAL, tak terkecuali dalam lingkup TRADISI KEAAGAMAAN atau sekedar nomenklatur nama Provinsi yang telah kadung berurat akar, bermulti-konsekuensi. 

Oleh: Taofik Al Rakhman
Sumber: https://www.facebook.com/trahcakra/posts/1557853524305192?pnref=story

12/31/2017 11:20:00 PM